Mengenal Sejarah Singkat Olahraga Balap Sepeda di Indonesia

28 Maret 2016 Olah Raga


Balap sepeda sebetulnya dikenal di Indonesia, jauh sebelum Perang Dunia II. Meskipun masih dibiayai oleh kaum pengusaha seperti perusahaan Tropical, Triumph, Hima, Mansonia dan lain-lain. Mereka dapat dikategorikan sebagai pembalap sepeda profesional. Padahal waktu itu masih zaman penjajahan Belanda.

Memang perkembangan olahraga balap sepeda cukup menguntungkan. Pada masa itu, khususnya kota Semarang menjadi pusat kegiatan balap sepeda. Oleh arsitek Ooiman dan Van Leuwen didirikanlah sebuah velodrome. Velodromen dalam bahasa Belanda disebut Wielerband, atau "Pias" dalam bahasa Indonesia. Beda halnya pada zaman Jepang kegiatan balap sepeda dapat dikatakan terhenti.


Baru ketika kemerdekaan diproklamasikan, para penggemar balap sepeda kembali mencoba mempopulerkan. Sebagai contoh terbukti ketika PON II/1951 berlangsung di Jakarta, balap sepeda termasuk cabang olahraga yang diperlombakan. Ikatan Sport Sepeda Indonesia ISSI baru didirikan tepat pada hari peringatan Kebangkitan Nasional yaitu 20 Mei 1956 di Semarang.

Sebelum itu di tahun 1951, beberapa daerah sudah membentuk perkumpulan-perkumpulan balap sepeda, seperti:
*. ISSS: Ikatan Sport Sepeda Semarang
*. PBSD: Persatuan Balap Sepeda Djakarta
*. ISSJ: Ikatan Sport Sepeda Jogjakarta
*. IPSS: Ikatan Pembalap Sepeda Solo
*. PSBS: Perkumpulan Sepeda Balap Surabaya
*. PBMS: Perkumpulan Balap Sepeda Medan dan Sekitarnya
*. Super Jet: Perkumpulan Balap Sepeda dari Bandung
*. PSBM: Perkumpulan Sepeda Balap Manado.

Jawa Tengah yang sejak semula memang menjadi pusat kegiatan olahraga balap sepeda di tanah air, terutama di kota Semarang dengan Ikatan Sport Sepeda Indonesia. Hal ini bertitik tolak atas keinginan untuk mempersatukan perkumpulan yang ada di seluruh Indonesia, agar pembinaan balap sepeda secara nasional dapat lebih mudah dilakukan. Gerakan ini didahului dengan lahirnya ROSBADT(Rombongan Sepeda Balap Djawa Tengah).

Tahun 1961 pembalap Indonesia dari tim Super Jet, Aming Priatna merebut medali emas di kejuaraan Road Race Asia di Tokyo, Jepang. Tahun berikutnya di pertandingan Asian Games 1962 di Jakarta, Hendra Gunawan dkk berhasil meraih 2 medali emas dari nomor jalan raya. Tim Super Jet akhirnya berganti menjadi PBS Sangkuriang pada tahun 1962 sesuai imbauan presiden Soekarno pada masa itu yang mensyaratkan perubahan untuk semua nama yang berbau asing dengan nama yang membawa semangat nasionalisme. Nama Sangkuriang sendiri diambil dari kisah legenda rakyat daerah Parahyangan (Bandung), kisah seorang sakti yang konon membentuk gunung Tangkuban Parahu.

Oleh: Josua M
(Dikutip dari berbagai sumber)