Di Balik Lolosnya Brasil ke Piala Dunia 2018

12 April 2017 Olah Raga


Brasil baru saja memastikan diri menjadi tim pertama yang lolos dari babak kualifikasi ke putaran utama Piala Dunia 2018 di Rusia. Kesuksesan itu tak bisa dilepaskan dari tangan dingin Tite - pelatih mereka. Brasil menghajar Paraguay 3-0 lewat gol-gol Philippe Coutinho, Neymar dan Marcelo di matchday 14 kualifikasi zona CONMEBOL. Kemenangan itu, didahului tumbangnya Argentina 0-2 di tangan Bolivia, membuat peluang Brasil terbuka lebar. Namun, itu saja belum cukup untuk mem-booking tempat. Kekalahan mengejutkan 1-2 Uruguay atas Peru dalam laga setelahnya lah yang menjamin Brasil akan finis empat besar di kualifikasi Amerika Selatan.

Brasil sejauh ini memimpin dengan 33 poin dengan empat laga tersisa, diikuti Kolombia (24), Uruguay dan Chile (23). Argentina (22) di peringkat lima, posisi untuk inter-confederation playoff. Uruguay dan Argentina masih harus saling berhadapan, yang berarti tak mungkin lagi bagi dua tim itu untuk melempar Brasil dari empat besar. Artinya, Selecao sudah pasti lolos otomatis ke Rusia 2018. Ketika Adenor Leonardo Bacchi, yang lebih dikenal sebagai 'Tite', ditunjuk menggantikan Dunga untuk melatih Brasil pada 20 Juni 2016, sang pemilik lima gelar juara dunia waktu itu terdampar di peringkat enam kualifikasi zona CONMEBOL. Dengan kata lain, Brasil terancam gagal lolos ke Rusia 2018. Itu menimbulkan keresahan di Negeri Samba.

Maju sembilan bulan ke depan, Brasil sudah menjadi negara pertama, selain tuan rumah, yang memastikan diri akan berlaga di turnamen akbar tahun depan. Brasil pun masih memegang rekor sebagai satu-satunya tim yang tak pernah gagal lolos ke Piala Dunia. Brasil juga merupakan satu-satunya tim yang sudah menjuarai Piala Dunia lima kali, yakni di Swedia 1958, Chile 1962, Meksiko 1970, Amerika Serikat 1994 dan Korea/Jepang 2002.

Apa yang sebenarnya berubah dari Brasil sejak ditangani mantan pelatih Corinthians tersebut?

  1. Brasil kembali menakutkan dengan formasi 4-1-4-1 racikan Tite.
  2. Brasil meraih delapan kemenangan beruntun di babak kualifikasi sejak dilatih Tite (Ekuador 0-3 Brasil, Brasil 2-1 Kolombia, Brasil 5-0 Bolivia, Venezuela 0-2 Brasil, Brasil 3-0 Argentina, Peru 0-2 Brasil, Uruguay 1-4 Brasil, Brasil 3-0 Paraguay), dan itulah yang meloloskan mereka ke Rusia 2018.
  3. Tite menekankan pentingnya etos kerja kolektif dan menguatkan gagasan tentang shared leadership: enam pemain berbeda telah memakai ban kapten dalam delapan laga terakhir di kualifikasi (Neymar, Miranda, Fernandinho, Dani Alves, Filipe Luis, RenatoAugusto).
  4. Tite membuat Brasil jadi lebih solid di segi defensif, dan itu terbukti dengan hanya dua gol yang bersarang di gawang mereka sejak dilatihnya (2-1 vs Kolombia, 4-1 vs Uruguay).
  5. Berkat Tite, pemain muda Marquinhos bersinar di jantung pertahanan, sedangkan Casemiro semakin berkembang di posisi gelandang bertahan.
  6. Tite menginspirasi Paulinho untuk menemukan kembali permainan terbaiknya setelah dua tahun tenggelam.
  7. Gabriel Jesus membuktikan diri sebagai salah satu elemen penting di tim Brasil sejak diberi debut oleh pelatih berusia 55 tahun pengagum Carlo Ancelotti ini.
  8. Brasil mencetak 24 gol dalam delapan laga kualifikasi sejak dilatih Tite. Lebih dari separuhnya merupakan kontribusi tiga pemain berbeda (Neymar 5 gol, Jesus 4 gol, Paulinho 4 gol).


Delapan kemenangan beruntun di babak kualifikasi adalah sebuah rekor baru oleh Brasil, mematahkan enam kemenangan beruntun yang diukir Brasil sendiri ketika menuju Piala Dunia 1970. Brasil masih akan menghadapi Ekuador (31 Agustus 2017), Kolombia (5 September 2017), Bolivia (5 Oktober 2017) dan Chile (10 Oktober 2017). Walau sudah pasti lolos, Brasil pasti siap menyapu bersih empat laga tersisa itu demi mencatatkan 12 kemenangan beruntun di kualifikasi sekaligus mengirim peringatan untuk para rivalnya.

Oleh: Josua M
(Dikutip dari berbagai sumber)