Subak, Sistem Irigasi Menggambarkan Keserasian Petani dengan Alam

31 Juli 2016 Kesenian


Sebuah sistem irigasi dalam pertanian ternyata menjadi ciri khas dan budaya baerah. Subak, sistem irigasi dari Bali menjadi kekhasan provinsi Bali. Sistem pengairan ini memiliki unsur ajaran Hindu yang kuat sehingga membuat masyarakat petani dapat serasi dengan alam untuk mendapat hasil panen yang baik.

Dalam sejarah, sistem subak diperkirakan diperkenalkan masyarakat Bali sejak abad ke -11. Pendapat ini berdasarkan Prasasti Raja Purana Klungkung yang menyebutkan kata kasuwakara, yang merupakan asal dari kata suwak dan kemudian berkembang menjadi subak.

Subak biasanya memiliki pura yang dinamakan Pura Unluncarik atau Pura Bedugul yang dibangun oleh pemilik lahan dan petani. Pura tersebut diperuntukkan bagi dewi kemakmuran dan kesuburan Dewi Sri.


Subak diatur oleh seorang pemuka adat yang juga seorang petani. Selain pemuka adat, ada juga organisasi subak yang terdiri dari beberapa tingkatan. Yaitu pekaseh (ketua subak), petajuh (wakil pekaseh), penyarikan (juru tulis), petengen (juru raksa), kasinoman (kurir), dan beberapa yang lainnya. Selain itu, ada munduk, yaitu sub kelompok yang terdiri dari 20 - 40 petani dan diketuai oleh seorang pengliman.

Sistem irigasi subak juga memiliki upacara keagamaan. Dalam subak dikenal sebuah ritual yang berlaku secara perorangan dan ritual berkelompok.

Ritual perorangan diantaranya ngendangin (dilakukan saat pertama kali mencangkul), ngawiwit (saat petani menabur benih), mamula (saat menanam), neduh (saat padi berumur 1 bulan agar tidak diserang penyakit), binkunkung (saat padi mulai berisi), nyangket (saat panen), dan manteni (ketika padi disimpan di lumbung). Sedangkan ritual berkelompok diantaranya mapag toya, mecaru, dan ngusaba.

Pada tahun 2012, UNESCO mengakui subak sebagai warisan dunia. Subak dikenalkan sebagai Bali Cultur Landscape.

Oleh: Feliciany H T
(Dikutip dari berbagai sumber)