Seni Kaligrafi dari Dua Aliran Berbeda

29 Desember 2014 Kesenian


Kaligrafi merupakan seni menulis indah. Kaligrafi berasal dari bahasa Yunani, yaitu kallos (keindahan) dan graphein (tulisan). Kaligrafi menjadi kesenian kuno yang masih popular sampai sekarang.

Kaligrafi pertama kali dikenali oleh pengguna aksara latin sekitar 600 SM di Roma. Kaligrafi memiliki gaya dan teknik beragam. Ragam kaligrafi tersebut berdasarkan wilayah - wilayah tempat perkembangannya.

Kaligrafi Barat


Lukisan kaligrafi barat dikenali oleh aksara latin. Kaligrafi tersebut diukir pada batu. Pada abad ke-2 dan ke-3 gaya huruf kaligrafi dikembangkan. Gaya yang disebut Uncial tersebut dikembangkan untuk menyalin teks - teks keagamaan pada Alkitab dan sejenisnya. Oleh sebab itu, para biara masih mempertahankan kaligrafi sampai abad ke- 5.

Seni kaligrafi akhirnya berkembang pada lukisan yang dapat dicetak dan menghiasi berbagai buku gambar pada era Imperial. Kaligrafi saat ini memiliki aplikasi yang beragam. Memasuki dunia desain grafis hingga desain logo atau lukisan murni. Fungsinya sebagai seni terapan dan seni kriya sehingga banyak para seniman memilih membuat lukisan kaligrafi.

Kaligrafi Timur


Kaligrafi Timur dibagi menjadi dua, yaitu kaligrafi China dan kaligrafi Arab. Walaupun kaligrafi Arab lebih popular saat ini, kaligrafi China telah berkembang jauh sebelumnya dimana usianya lebih tua, yaitu sekitar 4000 tahun masehi. Di Arab, kaligrafi pertama kali dikenalkan oleh seorang keturunan Persia bernama Abu ‘ali Muhammad bin’ ali Ibnu Muqlah Syirazi. Ia membuat naskah thuluth dengan gaya kursif pertama dari Arab.

Sementara di Asia Timur, kaligrafi disebut dengan ‘Shufa’ di Cina, ‘Shodo’ di Jepang, dan ‘Seoye’ di Korea. Kaligrafi di Asia Timur dapat dipandang baik sebagai praktek kesusasteraan maupun sebagai seni murni. Di Indonesia sendiri, kaligrafi dikenalkan dengan mempelajari aksara kuno, seperti aksara Jawa atau aksara Sunda.

Oleh: Feliciany H T
(Dikutip dari berbagai sumber)