Ritual Menjamu Benua untuk Menghubungi Dunia Gaib

6 April 2016 Kesenian


Setiap daerah di Indonesia memiliki budayanya sendiri. SEbagian besarnya memilki upacara adat yang diturunkan dari nenek leluhurnya. Hingga saat ini masih ada suku daerah yang menjalankan upacara adat tersebut, termasuk ritual yang berhubungan dengan alam gaib. Salah satunya adalah masyarakat dari Kerajaan Kutai Kartanegara, di Kalimantan Timur.

Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura mengadakan Festival Erau setiap tahunnya. Dalam festival ini terdapat serangkaian ritual yang berfungsi membuka komunikasi dengan alam gaib, salah satunya dalah ritual Menjamu Benua.

Menjamu Benua adalah ritual pemberitahuan kepada alam gaib bahwa Sultan Kutai telah memutuskan dan menyelenggarakan festival Erau serta memohon keselamatan dan kelancaran selama Erau berlangsung. Dari ritual pemberitahuan ini diharapkan para ‘mahkluk halus’ tidak mengganggu saat acara berlangsung.

Ritual Menjamu Benua dilaksanakan oleh rombongan yang terdiri dari 7 orang ‘dewa’ (dukun wanita), 7 orang belian (dukun pria), 7 pangkon bini, dan 7 pangkon laki. Ritual ini juga diiringi oleh iringan gendang dan gamelan.

Para rombongan tersebut akan membawa sesajian yang diletakkan pada tiga titik, yaitu Kepala Benua (Kelurahan Mangkurawang), Tengah Benua (depan keraton), dan Buntut Benua (Kelurahan Timbau).

Ritual dimulai dari kediaman Sultan. Di kediaman sultan, rombongan meminta restu dari sultan untuk melaksanakan Menjamu Benua. Sultan pun memberi restu dengan menaburkan beras kuning kea rah pelaksana ritual dan menyerahkan selembar pakaian sebagai perwakilan dirinya.

Kemudian, barulah rombongan pergi ke tiga titik yang ditentukan. Di setiap titik, sesajian diletakkan di tempat yang telah ditentukan. Setelah semua sesajian siap, ‘dewa’ menghadap ke sungai Mahakam untuk melakukan memang(pembacaan mantra) dan melakukan besawai (membaca doa sambil menebarkan beras, bunga, dan lainnya).

Hawa magis sangat terasa saat asap dupa dan perlengkapan ritual lain mengepul di sekitar tempat ritual. Saat pembacaan mantra itulah para belian dan dewa berkomunikasi dengan para gaib untuk memberi tahu bahwa Erau akan digelar.

Oleh: Feliciany H T
(Dikutip dari berbagai sumber)