Ogoh-Ogoh, Ritual Hari Nyepi Nan Meriah

30 Maret 2015 Kesenian


Menjelang Hari Raya Nyepi, masyarakat Hindu menjalani sejumlah ritual khas dalam upaya penyucian diri dan lingkungan sekitar. Seperti satu hari sebelum Nyepi, masyarakat Bali melakukan ritual Buta Yajna. Dalam rangkaian Buta Yadnya, terdapat tradisi pawai ogoh-ogoh yang membuat jadi festival tahunan yang semarak dan menjadi daya tarik pariwisata.

Ogoh-ogoh adalah karya seni patung dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Dalam ajaran Hindu Dharma, Bhuta Kala merepresentasikan kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (Kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan.

Ogoh-ogoh pada dasarnya adalah boneka raksasa yang diarak keliling desa menjelang malam sehari sebelum hari raya nyepi, atau dikenal dengan Pangrupukan. Boneka tersebut nantinya akan dibakar.

Pembakaran Ogoh - ogoh ini memiliki tujuan yaitu mengusir untuk Buta Kala dari lingkungan sekitar. Mengusir Buta Kala yang diwujudkan dalam bentuk Ogoh-ogoh bisa diartikan sebagai perlambang upaya untuk mengusir kekuatan jahat yang bisa menggangu keseimbangan kehidupan.

Selain bentuknya yang raksasa, Ogoh - ogoh seringkali digambarkan dengan makhluk hidup, contohnya naga atau gajah. Boneka besar ini biasanya terbuat dari bambu yang dianyam, namun kini juga dimodifikasi dengan menggunakan gabus yang relatif lebih ringan dan gampang dikreasikan dalam berbagai bentuk dan rupa yang diinginkan.

Di Bali sudah ada museum yang khusus menampilkan berbagai Ogoh-ogoh. Museum ini terletak di sebelah barat Pura Taman Ayun, Mengwi, Badung berdekatan dengan Museum Yadnya. Dengan nuansa magis yang cukup kental, kita bisa menyaksikan berbagai macam dan bentuk Ogoh-ogoh dengan ketinggian rata-rata sekitar 2 hingga 5 meter.

Oleh: Feliciany H T
(Dikutip dari berbagai sumber)