Kenali Tari Tradisional Sulsel Tari Kipas Pakarena!

13 Agustus 2016 Kesenian


Indonesia memiliki seni tari kipas tradisional yang beragam dari berbagai daerah. Setiap tari daerah memiliki makna dan keunikan tersendiri. Dan tari kipas yang satu ini tak kalah unik dan indahnya. Yakni tari kipas dari Sulawesi Selatan, Tari Kipas Pakarena atau Tari Pakarena.

Tari Pakarena merupakan tari tradisional asal Gowa, Sulawesi Selatan yang sering dipentaskan untuk promosi pariwisata. Kata Pakarena sendiri berasal dari bahasa setempat yakni ‘karena’ yang berarti main. Tari ini sudah menjadi tradisi yang dipertahankan sejak zaman Kerajaan Gowa.

Tari ini diiringi oleh 2 kepala drum atau disebut gandrang, dan instrument alat musik semacam suling. Tari Pakarena dimainkan oleh kurang lebih 4 orang perempuan.

Tidak ada sejarah pasti asal mula Tari Pakarena ini. Namun menurut mitos setempat, tari ini berkaitan dengan kisah perpisahan antara penghuni boting langi (negeri khayangan) dengan penghuni lino (Bumi) pada zaman dahulu. Sebelum berpisah, penghuni boting langi mengajarkan penghuni lino bagaimana cara menjalani hidup, bercocok tanam, berternak dengan gerakan - gerakan badan dan kaki. Gerakan - gerakan itulah yang digunakan penghuni limo sebagai rasa syukur kepada penghuni boting langi.

Tak heran jika gerakan dari tarian ini sangat artistik dan halus. Hal ini mencerminkan karakter perempuan Gowa yang sopan, setia, patuh dan hormat terhadap laki-laki pada umumnya, khususnya terhadap suami.

Tarian ini dibagi menjadi 12 bagian, meski agak susah dibedakan oleh kaum awam karena gerakannya suit dibedakan satu sama lain. Namun setiap gerakan memiliki makna tersendiri. Seperti posisi duduk, menjadi pertanda awal dan akhir Tarian Pakarena. Gerakan berputar mengikuti arah jarum jam, menunjukkan siklus kehidupan manusia. Sementara gerakan naik turun mencerminkan roda kehidupan yang kadang di bawah dan kadang di atas.

Tarian Kipas Pakarena memiliki aturan yang cukup unik, di mana penarinya tidak diperkenankan membuka matanya terlalu lebar, sementara gerakan kakinya tidak boleh diangkat terlalu tinggi.

Oleh: Feliciany H T
(Dikutip dari berbagai sumber)