Bangganya Indonesia Punya Jogja with I Know You Well Miss Clara

11 Januari 2017 Kesenian


Jogja dikenal dengan kota pelajarnya. Banyak pelajar yang berprestasi yang menjadi kebanggaan Indonesia. Salah satunya adalah Reza Ryan, Adi Wijaya, Enriko Gultom, Alfiah Akbar. 4 orang ini membentuk group band dengan nama yang unik I Know You Well Miss Clara (IKYWMC). Genre yang mereka bawakan juga tidak seperti kebanyakan group band yang ada. Reza, yang merupakan founder IKYWMC mengatakan mereka membawakan lagulagu
Eksperimental Jazz. Pertama kali saya bertemu personil IKYWMC Reza dan Adi adalah
ketika mereka berdua datang berkunjung ke sekolah saya, Digital Music University Surabaya.
Saat itu tujuan Reza dan Adi adalah membicarakan lagu-lagu yang ingin mereka mixing
mastering di tempat kami. Aneh, itu pikiran yang terlintas di otak saya. Dan ketika
mendengar lagu-lagu mereka, kata aneh berubah menjadi kata Jenius. Waktu mereka ke
Surabaya saya malah tidak sempat mewawancarai mereka. Ketika album mereka Chapter
One dirilis oleh salah satu Label Record Amerika Moonjune, keinginan saya semakin kuat
untuk mewawancarai IKYWMC. Berikut wawancara saya dengan mas Reza melalui chatting
facebook yang dimulai jam 9 malam sampai dengan jam 12 malam.
Saya:
Saya hanya kenal dengan mas Reza dan mas Adi saja. Bisa disebutkan personil IKYWMC
yang lain?
Reza:
Oh ya mbak, IKYWMC adalah terdiri dari 4 orang, saya Reza Ryan Gitar, Ady Wijaya
Keyboard, Enriko Gultom Bass, dan terakhiri Alfiah Akbar Drum.
Saya:
Next kalo ke Surabaya lagi mereka semua diajak ya, hahaha.. Dari awal saya kenal, saya
sangat-sangat penasaran dengan nama group bandnya yang panjang banget. Biasanya kan
nama group band itu, Iron Band, Super Band..dan banyak lagi. Tapi nama band seperti
punya mas Reza benar-benar unik, I KNOW YO WELL MISS CLARA.????
Reza:
Dulu saya punya band namanya Nerve. Suatu ketika Andi (drummer Nerve), meminta saya
membuat sebuah karya musik instrumental untuk kami mainkan bersama di ujian resital di
kampusnya dia . Saya bikinkan lagu itu, judul lagunya I KNOW YOU WELL MISS CLARA.
Kemudian suatu ketika saya bergabung bersama grup progressive rock bernama SAdA yang
anggotanya antara lain dosen2 saya di kampus ISI Yogyakarta, dosen musik di UKSW
Salatiga, dll. Hanya saya sendiri yang waktu itu msh berstatus mahasiswa. Bersama SAdA
kami sudah banyak bermain di event2 jazz dan progressive music di Indonesia. Meski sudah
sering bermain di kancah nasional dan memainkan karya sendiri, SAdA tidak mempunyai
satu album studiop pun, hal ini mungkin disebabkan karena kesibukan personil2nya. Grup
SAdA ini bs dibilang hidup segan mati tak mau, lebih banyak vakumnya. Sebagai personil
paling muda, tentu saya bergolak ingin selalu bermain musik dan produktif, tp nampaknya
hal itu tidak bisa diwadahi di SAdA. Akhirnya mulailah saya membentuk sebuah project
musik baru. Project musik baru yg saya bentuk, dari awal memang sudah saya pikirkan
konsepnya, tidak secara detil,melainkan grand designnya saja, musiknya seperti apa dll.
Awalnya saya mengajak Adi Wijaya (piano), kami membentuk duo gitar & piano. Duo ini
berjalan sekitar 2 bulan sebelum kami memutuskan menambah satu personil kontra bass.
Akhirnya saya mengajak Enriko Gultom (kontra bass) untuk melengkapi formasi. Kami
menjadi grup trio. Ternyata beberapa waktu berjalan kami merasa harus menambah posisi
drummer, akhirnya kami mengajak teman kami Alfiah Akbar untuk mengisi posisi drummer.
Sejak saat itu kami menjadi kwartet. Itu latar belakangnya. Dan kenapa namanya
IKYWMC?? Saat itu grup kwartet kami belum ada namanya sampai suatu saat ada tawaran
main di Solo City Jazz 2010. Saat itu panitia menanyakan nama band dan kami bingung mau
menamakan diri apa. Nah kebetulan lagu yang mau kami bawakan waktu itu adalah lagu
yang berjudul I KNOW YOU WELL MISS CLARA, trus atas usulan temen2, kami memakai judul
lagu tersebut buat nama band. Judul lagu tersebut akhirnya saya ganti menjadi
Conversation No. 1.
Saya:
Oo begitu, jadi itu merupakan judul dari sebuah lagu. Tetapi kenapa namanya harus Clara?
Bukan Dila mungkin? Atau Leina? Atau siapa gitu...
Reza:
Hahahaha..gini mbak, Teman2 saya waktu itu bilang ke saya kalo tiap kali saya bikin musik
selalu rumit dan susah dicerna. Saya bilang, untuk memahami musik saya, harus 'kenal' dulu
dengan cara didengarkan seksama. Analoginya seperti kita mengenal pacar / pasangan /
istri atau apapun karena bagi saya untuk mengenal sebuah karya musik harus total terlibat
scr afeksi, dalam hal tertentu mungkin juga kognisi. Saya menganalogikan Nona Clara
adalah personifikasi karya2 musik saya, makanya lagu tersebut saya kasih judul I KNOW
YOU WELL MISS CLARA. Kenapa saya pilih nama Clara dan bukan yg lain? Saya pikir nama
Clara cukup seksi, provokatif dan mengundang tanya. Oya saya tambahkan kata "WELL" di I
KNOW YOU WELL MISS CLARA karena biar ada penekanan "sangat kenal"
Saya:
Begitu ya, pantas saja namanya panjang sesuai dengan penjelasannya: D (Kata saya sambil
tersenyum sendiri..)
Reza:
Ya begitu deh mbak..
Karena pembicaraan ini kami lakukan melaui facebook, maka sesekali kami membawabawa
emoticon untuk mewakili emosi kami.
Saya:
Mengenai personil, apakah kalian berempat teman dekat?
Reza:
Kami semua teman satu kampus di ISI Yogyakarta.
Saya:
Apakah teman dekat?
Reza:
Awalnya sebatas teman satu kampus saja, skrg krn sering berproses bersama mau tdk mau
akhirnya dekat juga. Hehe
Saya:
Mengapa memilih mereka, Adi,Enriko dan Alfiah? Karena biasanya dari yang sudah-sudah, memilih
personil band adalah sesuatu yang susah-susah gampang.
Reza:
Saya merasa mereka mau berkembang dan belajar berproses bersama. Dan bisa saya racuni
musiknya.
Saya:
hahaha..racuni musiknya.. kedengarannya sedikit egois nih: d
Reza:
Maksudnya. Tidak semua pemain jazz punya pikiran terbuka. Beberapa musisi jazz malah
terjebak pada konservativisme dan terlalu takut bermain2 di wilayah non mainstream,
mungkin krn jazz adalah produk asing jadi kita masih belajar dan takut menyimpang dari
root. Oke itu benar, tapi musik selalu berkembang, apalagi di era keterbukaan informasi
seperti skrg. Kita ga tabu lagi dengan kasus seorang musisi yg tumbuh dalam lingkungan
musik rock dan di satu sisi mendengarkan jazz disisi lain belajar musik klasik. Saya punya
pemahaman Genre memang perlu ada tapi itu cuma buat klasifikasi, historiography,
analisis, tapi saat berkarya harusnya kita tidak terpenjara oleh genre. Sebagai musisi,
kreatifitas, ide dan konsep adalah segalanya. Masalah nanti musiknya disebut sebagai apa
toh sudah ada orang2 yg berprofesi sebagai kritisi, musikolog dll. Biarlah mereka yg
merumuskan secara keilmuan. Saat saya membentuk IKYWMC, saya tidak bisa bekerjasama
dengan orang2 konservatif karena konsepnya memang bukan konservatif dalam artian kami
menganut pada genre tertentu yang sudah established duluan. Dengan kata lain kami
bermain di wilayah musik progressive. Progressive sendiri jangan dilihat sebagai sebuah
kata benda untuk musik, melainkan kata sifat, sifat yang progressive, maju, anti status quo,
liberal. Musik progressive bukanlah sebuah formula musik tertentu.
Saya:
get it. menitik beratkan pada persamaan mind set ya
Reza:
Musik progressive menolak formula musik tertentu. Menolak tentunya dengan argumentasi
dan pemahaman baru, bukan asal aneh, asal janggal.
Saya:
kalo denger lagu2nya kan jazzy banget (ini bahasa saya saja ..) apa yakin bisa diterima
pasar di indonesia, tau kan sekarang musik2 indonesia spt apa?
Reza:
Waktu itu kami nggak berpikir pasar, kami bermain untuk kesenangan kami sendiri. Lama2
beberapa teman mengundang kami main dan respon temen bagus, berlanjut di gig lain,
sampe saya bertemu Leonardo.
Saya:
Leonardo?
Reza:
Leonardo Pavkovic
Saya:
Dan dia adalah....
Reza:
bossnya MoonJune Records.
Saya:
Ini yang menarik, bisa cerita ke teman-teman, sampai bisa tembus Moonjune Records?
Reza:
Aku dan Leo udah berteman di Facebook sebelum aku bikin IKYWMC. Leo ini tipikal orang
yang punya passion sedemikian besar ama musik, udah mendengarkna 15.000 - 30.000
keping CD album musik. Waktu itu Leo sedang mencari grup progressive Jogja, namanya
ANANE, tapi saat itu ANANE sudah bubar karena ditinggal mati motornya, Firman/gitaris
(alm). Firman sendiri kakak senior saya di kampus ISI. DI Jogja waktu itu ada beberapa grup
progressive selain ANANE, juga ada band saya SAdA. Suatu saat saya saya bikin IKYWMC,
saya bilang ke Leo, "Leo, saya bikin grup baru nih, namanya IKYWMC". Dia minta dengerin,
dia suka, dan dia mau produce dan rilis di MoonJune. Begitu ceritanya
Saya:
Luck ya berarti , tau Leo dari mana?
Reza:
Dia yang 'menemukan' saya. Dia kan emang gaulnya ama komunitas IPS di Jakarta.
Komunitas IPS beberapa aku kenal. Indonesian Progressive Society. Mungkin dari situ
awalnya.
Saya:
awalnya kan main untuk kesenangan ketika ditawari Leo, apa soulnya masih sama? karena
dulu tidak berpikir industri..atau gimana nih?
Reza:
Masih dong. Selera musikku hampir sama ama selera musiknya Leo. Sebelum bikin IKYWMC,
aku ama Leo sering cerita2 musik gitu. Ngobrol2 musik yg jadi kegemaran kami.
Saya:
Harapan setelah album rilis?
Reza:
Tour ke luar negeri terutama Amerika dan Eropa. Ya sering tour ke kota2 di Indonesia juga.
Produksi album terus.
Saya:
Amin... semoga terlaksana. Dukungan orang tua gimana mas?
Reza:
Kalo orang tua temen2 yang lain saya kurang tau. Kalo orang tua saya dari sejak saya
memutuskan mengambil jurusan musik sebagai jalur studi formal saya di universitas
memang sudah memberikan kebebasan pada saya. Keluarga saya mencintai musik. Sejak
kecil saya sudah akrab dengan The Beatles, ABBA. Saya merasa bakat saya di musik, jadi
kenapa tdk saya kembangkan saja dengan serius? Saya percaya Gift atau bakat yang Tuhan
berikan tidak untuk disimpan sendiri untuk kesenangan sendiri. Setiap manusia adalah
khalifah di bumi, menurut bidangnya masing-masing. Saya percaya dengan Theory of
multiple intelligences dari Howard Garner. Tidak ada seorang pun anak yg tidak cerdas,
semua anak adalah pintar/cerdas, hanya sistem pendidikan kita lah yang tidak bisa
membaca dan menggali kepintaran anak.
Saya:
Betul mas, oh ya, untuk produksi mixing mastering, mengapa memilih DMU ? Biasanya
anak-anak band memilih tempat di Jakarta untuk produksi mixing mastering ?
Reza:
Dulu saya direkomendasi sama temen lama saya, Nanda, untuk mixing dan mastering album
IKYWMC di DMU, trus Nanda memperdengarkan ke saya hasil mixing dan mastering bandband
bule yang digarap oleh DMU, saya langsung tertarik begitu mendengarkan hasilnya
dan ingin segera bekerjasama dengan DMU.
Saya:
Oo begitu. Saya lihat sudah banyak GIGS yang diikuti IKYWMC, salut mas. Kedepan semoga
menjadi lebih baik, membawa nama Indonesia di duniai International.
Reza:
Thank you mbak..Amin
Sesi pembicaraan kami berakhir. Selesai berbicara dengan mas Reza, saya jadi teringat katakata
Ayah Guru saya, "Setiap hari lakukanlah sesuatu, berkarya, entah akan menghasilkan
sekarang atau nanti, tapi teruslah bergerak, jangan diam.." Teman-teman IKYWMC telah
melakukan itu semua. Mereka bermain dari satu GIGS ke GIGS yang lain. Berkarya. Sampai
akhirnya mereka mendapat kesempatan membuat album dengan Moonjune Record label
dari Amerika. Dengan jaman teknologi dan internet, ternyata banyak jalan untuk mencapai
kancah international. Congrat buat IKYWMC, semoga bisa menjadi inspirasi buat temanteman
semua.
Dila Suryadi
www.digitalmusicuniversity.com