Yang Terjadi pada Tubuh Saat Diserang Ebola

26 Agustus 2014 Artikel Kesehatan


Ebola adalah virus Ebolavirus (EBOV), genus virus dan penyakit demam hemorrhagic Ebola (EHF), virus demam hemorrhagic (VHF). Terdapat empat spesies yang diakui dalam ebolavirus genus, yang memiliki nomor strain tertentu. Zaire virus adalah spesies tipenya, yang juga yang pertama ditemukan dan paling mematikan. Ebola ditularkan melalui cairan-cairan tubuh. Eksposur kulit dan conjunctiva juga dapat menyebabkan untuk transmisi, tetapi untuk tingkat yang lebih rendah. Ebola pertama muncul pada tahun 1976 di Zaire.

Tidak bisa dimungkiri, Ebola merupakan jenis virus yang paling ditakuti di dunia. Bagaimana tidak, virus tersebut membawa vonis kematian bagi mereka yang terjangkit. Jika tidak ditangani secara tepat, laju kematian pasien Ebola adalah 90 persen. Itupun jika mendapatkan penanganan medis optimal, jika terlambat didiagnosa, angka mortalitas Ebola masih tinggi, sekitar 60 persen.

Apa yang sebenarnya menyebabkan Ebola begitu berbahaya? Dr. Nahid Bhadelia, M.D, epidemiologis Boston Medical Center, Amerika Serikat mengatakan, saat virus Ebola berpindah masuk ke tubuh manusia, dengan segera virus tersebut masuk ke dalam sel tubuh dan menggandakan diri. Setelah itu, sel tubuh akan pecah dan mengeluarkan virus-virus baru yang akan menginfeksi sel tubuh lain dan mengacaukan sistem tubuh secara keseluruhan.

Virus Ebola memproduksi protein yang disebut ebolavirus glycoprotein, yang langsung menempel pada sel dalam pembuluh darah. Protein tersebut akan menipiskan lapisan pembuluh, yang memicu kebocoran darah dalam tubuh. Virus Ebola menurunkan kemampuan tubuh dalam mengkoagulasi darah dan menyebabkan pendarahan internal.

Selain itu, virus Ebola juga melemahkan sistem kekebalan tubuh, seperti yang dilakukan virus HIV yang menyebabkan AIDS. Bedanya, virus Ebola akan memengaruhi sel darah putih dan membuat sel tersebut tidak bisa memperingatkan tubuh akan bahaya kesehatan yang mengancam, terutama dari hati, ginjal, empedu, dan otak.

Ketika sel darah putih dilemahkan Ebola, tubuh akan memproduksi molekul yang disebut sitokin. Dalam tubuh yang sehat, keberadaan sitokin akan merangsang otak untuk melepaskan sel penangkal penyakit. Namun, dalam kasus Ebola, sitokin yang dilepaskan terlalu berlebihan sehingga menyebabkan gejala mirip flu.

Secara umum, tahap pertama Ebola memang dimulai dengan gejala mirip flu. Namun, virus ini mendapatkan cap mengerikan karena menyebabkan pendarahan yang berujung kematian. Kendati demikian, hanya 20 persen pasien Ebola yang mengalami gejala ekstrim tersebut. Kebanyakan pasien Ebola justru meninggal karena dehidrasi dengan pendarahan minor yang terjadi pada gusi atau memar di beberapa bagian tubuh.

Jika Ebola tidak segera ditangani, dari gejala mirip flu, virus akan semakin melemahkan pertahanan tubuh dan membuat pasien mengalami dehidrasi parah dari muntah, diare, dan tekanan darah yang rendah. Pendarahan hanya akan muncul dalam tahap terakhir serangan Ebola. Pada akhirnya, pasien Ebola akan meninggal karena shock dan kegagalan fungsi multi organ.

Lalu, bagaimana pasien Ebola bisa bertahan setelah terinfeksi? Sistem imunitas yang sehat adalah kuncinya. Jika sistem kekebalan tubuh berada dalam kondisi optimal, semua infeksi virus bisa dimentahkan. Selain itu, kecepatan diagnosa juga menentukan. Semakin cepat penanganan medis diberikan setelah terinfeksi, semakin tinggi angka kelangsungan hidup pasien. Jika Ebola diketahui masih dalam tahap awal, sel penanda yang menjadi gerbang masuk virus tersebut bisa diisolasi dan dimutasis, sehingga virus tidak bisa keluar dari sel tersebut dan menginfeksi sel lain.

Oleh: Josua M
(Dikutip dari berbagai sumber)