Waspadai, Tinggi Garam + Rendah Potasium = Risiko Kematian Meningkat

29 Juli 2011 Artikel Kesehatan


JAKARTA - Meski santapan anda kurang asin, sebaiknya pikir dua kali lagi untuk menambah garam. Mengonsumsi garam terlalu banyak sementara asupan potasium dalam tubuh rendah bisa berisiko mematikan, demikian periset pemerintah AS menyimpulkan dalam studi terbaru mereka.

Temuan dari tim periset Pusat Kontrol dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) tengah melawan studi sebelumnya yang didebat keras. Dalam studi itu tidak ditemukan bukti nyata bahwa mengurangi garam bisa menekan risiko penyakit jantung dan kematian prematur.

"Garam masih tetap buruk bagi anda," ujar Komisi Kesehatan kota New York, Thomas Farley. Ia pun menanggap masih perlu untuk melakukan kampanye pengurangan garam di restoran dan makanan kemasan hingga 25 persen dalam target 5 tahun.

Sebagian pakar kesehatan setuju dengan Farley bahwa mengonsumsi terlalu banyak garam tidak baik bagi tubuh dan mengurangi asupan bisa menurunkan tekanan darah. Tekanan darah tinggi terbukti meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke. Tingkat asupan garam oleh populasi dunia kian bertambah sejak tahun 1970-an. Warga Amerika saja, menurut perhitungan mengonsumsi garam dua kali lipat dari batas harian yang direkomendasikan.

Dalam studi CDC, yang diterbitkan oleh Arsip Pengobatan Internal, khusus memfokuskan pada kajian kian berkembang di mana pola makan tinggi garam namun rendah potasium sungguh berisiko.

Farley yang menulis editorial dalam laporan penelitian CDC, mengatakan kajian ini salah satu terbaik dalam memantau efek jangka panjang konsumsi tinggi garam. "Hasilnya sepenuhnya konsisten dengan pembicaraan kalangan medis mengenai asupan sodium," ujar Farley.

Dalam studi itu, para periset memantau efek jangka panjang konsumsi sodium dan potasium terhadal 12 ribu orang. Studi itu dilakukan selama lebih dari 15 tahun.

Pada akhir periode studi, 2.270 partisipan dalam studi telah meninggal. Dari mereka yang meninggal, 825 kematian tercatat akibat penyakit jantung, dan 433 akibat penggumpalan pembuluh darah dan stroke. Kunci pada Potasium

Studi juga menemukan bahwa mereka yang mengonsumsi tinggi garam dan potasium rendah adalah yang paling berisiko tinggi.

"Mereka dengan diet tinggi sodium dan rendah potasium mengalami peningkatan risiko 50 persen mengalami kematian dari berbagai penyebab, atau memiliki risiko dua kali lipat, alias 200 persen meninggal akibat serangan jantung," demikian Elena Kuklina, salah satu periset, memaparkan.

Ia mengatakan orang justru butuh meningkatkan asupan potasium dalam pola makan dengan menambah lebih banyak buah segar, sayur seperti bayam, anggur, wortel, ketela manis dan susu rendah lemak serta yoghurt

Penelitian itu bukan tanpa tantangan. Salt Institute, sebuah grup industri menuding temuan kajian CDC yang mengaitkan antara garam dan penyakit jantung secara statistik sangat tidak siginifikan.

"Ini adalah publikasi dengan cacat besar yang mencoba mengusung agenda anti-garam, kampanye yang telah lama digalakkan CDC," ujar direktur Sains dan Riset Salt Institute, Mort Satin.

"Satu-satunya hal signifikan adalah keterkaitan antara asupan potasium rendah dengan kematian," ujar Satin dalam pernyataan.

Dr Robert Briss, direktur Pusat Nasional untuk Pencegahan Penyakit Kronis dan Promosi Kesehatan di CDC, mengatakan temuan itu mendukung bukti dan anjuran umum bahwa dosis sodium lebih tinggi sangat terkait dengan konsekuensi buruk pada kesehatan.

Dan kesimpulan juga menyarankan 'bahwa potasium lebih tinggi memiliki manfaat lebih baik," ujar Briss dalam wawancara telefon.

"Sebagaian besar sodium tidak terkait dengan garam meja namun itu berada dalam makanan dan terutama makanan olahan dan di restoran yang kita beli. Para konsumen, meski yang memiliki motivasi besar mengurangi garam, tidak memiliki banyak pilihan," ujarnya.

Kuklina mengatakan potasium kerap membalikkan efek buruk garam dalam diet. Keberadaan unsur itu terutama berpengaruh pada mereka yang kerap menyantap makanan olahan. "Jika sodium menaikkan tekanan darah anda, maka potasium menurunkannya. Bila garam bersifat menyimpan dan menahan air, potassium membantu tubuh anda menyingkirkan kelebihan air," paparnya.

Alih-alih fokus hanya pada garam, Kuklina mengatakan periset seharusnya fokus pada kesimbangan antara potasium dan garam. "Kita perlu mengupayakan kedua hal bersamaanya, mengurangi asupan garam dan meningkatkan konsumsi potasium," ujarnya.

Sumber: Onislam.net, republika.co.id