Waspadai! Kurang Tidur Dapat Berakibat Kerusakan Otak Permanen

30 Maret 2014 Artikel Kesehatan


Tidur mempunyai fungsi yang lebih dari sekadar merehatkan tubuh sahaja. Seseorang yang kurang tidurnya boleh menyebabkan memori otak terganggu, bahkan mampu membawa kepada risiko-risiko buruk yang lain. Hasil kajian yang pernah dijalankan oleh beberapa kaji selidik menunjukkan tidur tidak hanya melindungi memori dari pengaruh luar tetapi juga membantu menguatkannya.

Penelitian menunjukkan kurang tidur dapat berakibat serius, yaitu hilangnya sel otak bahkan berisiko menyebabkan otak rusak permanen. Studi pada tikus menunjukkan kurang tidur berkepanjangan menyebabkan 25 persen sel otak tertentu mati. Menurut ilmuwan Amerika, pada manusia yang kurang tidur, hal yang sama bisa saja terjadi meskipun manusia berusaha mengganti waktu tidurnya atau mengonsumsi obat untuk melindungi otak.

Penelitian yang diterbitkan oleh The Journal of Neuroscience ini meneliti tikus di laboratorium. Perilaku tikus tersebut meniru jenis-jenis kurang tidur pada umumnya dalam kehidupan modern, seperti bekerja pada shift malam atau menghabiskan waktu berjam-jam di kantor.

Tim peneliti dari University of Pennsylvania School of Medicine mempelajari sel-sel otak tertentu yang terlibat dalam menjaga sistem peringatan otak. Setelah beberapa hari melihat pola tidur pada orang-orang yang bekerja di malam hari, tikus kemudian kehilangan 25 persen sel otaknya, yang dikenal sebagai locus coeruleus (LC) neuron. Pola kerja yang dimaksud adalah tiga hari bekerja pada shift malam, dengan waktu tidur hanya 4-5 jam dalam waktu 24 jam.

Kerusakan permanen?

Para peneliti mengatakan ini adalah bukti pertama bahwa kurang tidur dapat menyebabkan hilangnya sel-sel otak. Tapi mereka menambahkan bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mengetahui apakah orang-orang yang kehilangan waktu tidur mungkin juga berada pada risiko kerusakan otak permanen.

"Kami sekarang memiliki bukti bahwa kurang tidur dapat menyebabkan kerusakan permanen. Ini adalah contoh sederhana yang ditunjukkan pada hewan namun kita harus berhati-hati pada manusia," kata Sigrid Veasey dari Center for Sleep and Circadian Neurobiology. Dia mengatakan, perlu ada langkah berikutnya untuk menguji otak para pekerja shift setelah adanya bukti kematian dari hilangnya sel-sel otak.

Oleh: Indra K
(Dikutip dari berbagai sumber)