Warung Sebaiknya Mulai Sediakan Menu Nabati

10 September 2009 Artikel Kesehatan


YOGYAKARTA, Banyak pihak mengakui bahwa makanan berbahan nabati , lebih menyehatkan ketimbang makanan dari hewani. Sehingga ada baiknya jika warung-warung makan umum pelan-pelan mulai menyediakan makanan berbasis murni nabati. Namun itu nampaknya adalah hal yang nyaris mustahil.

Erniatun Hartini (28), karyawan di JogjaTVmengaku susah mencari warung makan yang menyediakan menu nabati seperti sayuran. "Siang hari saja cukup susah, apalagi malam hari. Menu warung pada malam hari daging melulu," kata Erni.

Menurut Erni, warung-warung makan di Yogyakarta, nyaris semua sudah terkondisikan menyediakan daging. Kalau pun ada sayuran, bumbunya masih juga menggunakan unsur hewani, seperti kaldu ayam/sapi, ebi (udang kering). terasi, hingga tetelan (sayatan kecil daging).

Erni bukan vegetarian, namun ia memandang vegetarian 100 persen sangat bagus. Ia pernah bervegetarian kira-kira dua pekan. Tapi gagal karena tak kuasa melihat udang. Untuk urusan daging, Erni bisa menolak daging hewan berkaki empat, juga berkaki dua seperti ayam. Namun untuk ikan, diakui masih sulit.

"Dari berbagai literatur, saya tahu bahwa daging hanya sedikit manfaatnya bagi kesehatan. Lebih banyak resiko plus penyakit yang timbul. Sementara, manfaat sayuran dan buah, banyak banget. Sayuran dan buah, juga enak. Saat saya bervegetarian, perut rasanya nyaman, mudah buang air besar. Juga nggak ngantukan," ujarnya.

Karena itu, Erni masih memendam keinginan untuk bervegetarian. Namun untuk bervegetarian penuh, tetap akan susah jika warung-warung menunya daging melulu. Dia sendiri saat ini sudah banyak melenyapkan menu daging hewan berkaki empat dan dua, dari piringnya.

Gabriella (27), warga Panembahan, Kraton, Kota Yogyakarta yang juga karyawan swasta berpendapat, ia bosan melihat menu kuliner yang daging tanpa jeda . Itu membuat masyrakat semakin dicekoki menu daging. Media pun sayangnya, terus mendukung menu daging.

Coba lihat acara kuliner di TV, artikel kuliner di koran dan majalah, sepertinya 99,99 persen menampilkan menu daging semua. Daging dikatakan enak dan lezat. "Tapi coba daging nggak dibumbui, rasanya hambar, anyep, berlendir, dan amis, kan," tutur Gabriella.

Sumber: Kompas.com