Uveitis Intai Perokok

3 Juni 2010 Artikel Kesehatan


Jimmy, 44 tahun, seorang perokok berat, beberapa minggu terakhir mengeluhkan penglihatannya yang mulai berkurang. Matanya sering tampak merah, nyeri, meski bukan karena kurang tidur. Ketika memeriksakan diri ke dokter, dia dinyatakan mengidap uveitis akibat kebiasaannya merokok.

Bukan asap rokok yang diembuskannya yang secara langsung meracuni matanya. Justru proses munculnya penyakit itu berlangsung di dalam tubuhnya. Satu alasan kuat untuk Jimmy agar segera menghentikan kecanduannya pada rokok.

Uveitis adalah peradangan yang menyerang bagian uvea mata. "Disebut uvea karena bentuknya yang seperti anggur. Bagian ini terdiri atas choroid, iris, dan ciliary body. Di bagian-bagian ini banyak pembuluh darah yang mengalirkan darah ke mata," kata Dr Rini Mahendrastari Singgih, Ped. Opthal/DSM di kliniknya di Bintaro, Jakarta Selatan, kemarin.

Karena uvea ini mengandung banyak banyak pembuluh darah, apa pun yang meracuni darah akan langsung terasa akibatnya di area uvea ini. Tapi tentu saja hal itu bergantung pada imunitas atau sistem daya tahan tubuh masing-masing orang.

Parahnya, "Rokoknya itu di tiap bagiannya adalah racun yang melemahkan sistem kekebalan tubuh kita, termasuk pembuluh darah. Uveitis bukan penyakit ringan karena, selain bisa terjadi relapse atau kekambuhan, jika dibiarkan bisa berujung pada kebutaan," kata Rini.

Sebuah penelitian yang dilansir pada Maret lalu menyimpulkan dengan jelas hubungan antara kebiasaan merokok dan uveitis di klinik di University of California, San Francisco, dan Proctor Foundation dari 2002 hingga 2009.

Penelitian yang dipimpin oleh Nisha Acharya, MD juga menyebut, di Amerika Serikat, sekitar 10 persen penderita kebutaan adalah karena uveitis. Acharya meneliti catatan medis dan status kebiasaan merokok dari semua pasien uveitis.

Setelah mempertimbangkan faktor usia usia, ras, gender, dan pendapatan rata-rata, Acharya menyimpulkan, para perokok 2,2 kali lebih berisiko mengidap uveitis dibanding mereka yang tak pernah merokok.

"Rokok mengandung sejumlah komponen yang menstimulasi peradangan dalam pembuluh darah. Inilah yang berkontribusi dalam mengganggu sistem imun tubuh hingga muncul uveitis," kata Acharya. Perlu penelitian lebih lanjut untuk mengkonfirmasi temuan Acharya, tapi hal ini bisa jadi peringatan bagi para perokok untuk segera menghentikan kebiasaannya.

Penelitian ini dilaporkan dalam American Academy of Ophthalmology. Meski sebagian besar penyebab uveitis tidak diketahui, tapi ada beberapa masalah yang menyertai uveitis, seperti infeksi virus, infeksi jamur, infeksi parasit, penyakit yang berhubungan dengan beberapa bagian tubuh, seperti artritis, penyakit pencernaan, dan penyakit autoimun, seperti lupus, atau sebab eksternal, seperti cedera akibat benturan pada mata.

Gejala uveitis ialah mata merah, penglihatan kabur, rasa nyeri, gelap dengan titik-titik hitam dalam penglihatan, dan sensitif terhadap cahaya. Uveitis bisa menyerang salah satu mata, meski bisa juga menyerang keduanya.

Gejala ini bisa muncul dengan tiba-tiba, tapi bisa juga berangsur dan berlangsung dalam hitungan bulan hingga tahunan. Uveitis bisa membahayakan struktur penting, seperti iris di depan mata dan retina, jaringan yang sangat sensitif terhadap cahaya di balik mata, yakni citra atau gambar yang dilihat akan difokuskan dan dikirim di saraf penglihatan.

Meski lebih sering muncul karena berantakannya sistem imun tubuh, dan bukan sebab khusus, uveitis dengan mudah bisa muncul pula pada mereka yang mengidap penyakit autoimun, seperti multiple sclerosis, juvenile arthritis, atau mereka yang terserang infeksi seperti herpes simpleks atau tuberkulosis.

Ada beberapa jenis uveitis. Paling sering terjadi adalah adalah uveitis anterior. Peradangan terjadi di bagian depan mata, dan sering disebut iritis karena umumnya hanya berefek di iris. Iritis sering terjadi pada usia muda dan usia pertengahan.

Posterior uveitis berdampak pada bagian belakang uvea, yang mempengaruhi choroid prima, lapisan dalam pembuluh darah dan jaringan penghubung dengan bagian tengah mata. Tipe uveitis ini disebut choroiditis. Jika retina juga terserang, disebut choroiretinitis. Bagian lain dari uveitis adalah pars planitis. Ini adalah inflamasi yang menyerang area sempit antara bagian warna mata atau iris dan choroid.

Pemeriksaan yang komplet pada catatan medis dan pemeriksaan mata harus dilakukan. Tes laboratorium harus dilakukan untuk menemukan adanya infeksi atau penyakit autoimun. Pemeriksaan yang teliti oleh ahli mata atau ophthalmologist sangat penting ketika gejala mulai muncul. Selain pemeriksaan mata bagian tengah, mungkin akan dilakukan pemeriksaan darah, tes kulit, atau pemeriksaan dengan sinar-X untuk melengkapi diagnosis.

Karena uveitis bisa berhubungan dengan penyakit di bagian tubuh lain, ahli mata mungkin akan ingin mengetahui kesehatan secara keseluruhan. Mungkin akan ada konsultasi dengan dokter umum atau spesialis yang biasa merawat kesehatan.

Dengan pengobatan yang tepat, serangan uveitis bisa pergi dalam hitungan hari atau minggu. Tapi kekambuhan sangat mungkin terjadi meski pengobatan pertama sudah tuntas. "Maka, kita tidak hanya mengobati, tapi juga harus melakukan perubahan gaya hidup menjadi lebih sehat," kata Rini. (utami)

Sumber: Sciencedaily | berbagai sumber (tempointeraktif.com)