Trombofilia Bisa Berakibat Fatal

3 Maret 2011 Artikel Kesehatan


Pusing, vertigo, sesak napas, nyeri dada, dan mengalami keguguran berulang harus segera diwaspadai. Itu bisa menjadi gejala trombofilia. Gejala penyakit ini sangat senyap, kerap tidak disadari, tetapi bisa sangat mematikan.

Ahli Hematologi-Onkologi Medik dari RSUP dr Kariadi, Semarang, Chatarina Suharti, akhir Februari lalu, menjelaskan, trombofilia atau hiperkoagulabilitas adalah kondisi peningkatan risiko trombosis alias mudahnya terjadi pembekuan darah. Di masyarakat, hal itu lebih dikenal sebagai penyakit darah kental. Kondisi itu bisa diturunkan lewat kelainan genetik, atau didapat, katanya.

Gejala trombofilia baru ditemukan tahun 1990-an. Kini kasusnya mulai banyak ditemukan, tetapi masih banyak dokter yang belum memahami.

Trombofilia disebabkan gangguan sistem imun pada tubuh di mana antibodi berbalik menyerang tubuh. Antibodi merusak sel pembuluh darah dan memicu pembekuan darah.

Bekuan darah pada penderita trombofilia dapat terjadi di mana saja, misalnya di pembuluh arteri di jantung, pembuluh darah di paru maupun otak, bahkan di pembuluh darah di retina (mata) dan telinga.

Bahaya mengancam saat bagian kecil bekuan darah terlepas dan ikut peredaran darah ke seluruh tubuh. Bekuan darah itu rawan tersangkut di pembuluh darah kecil dan menimbulkan penyumbatan, kata Suharti.

Sumbatan bekuan darah di pembuluh darah jantung dapat menyebabkan serangan jantung. Jika bekuan darah sampai di pembuluh darah otak, bisa mengakibatkan stroke. Bekuan darah yang tersangkut di pembuluh paru bisa menyebabkan emboli paru. Semua kondisi itu dapat mengakibatkan kematian jaringan dan berakhir kematian penderita.

Bekuan darah yang menyumbat pembuluh darah di mata menyebabkan penderita kehilangan kemampuan melihat. Jika terjadi di telinga, pendengaran pun tiba-tiba hilang.

Perempuan penderita trombofilia dapat mengalami keguguran berulang karena pasokan oksigen dan nutrisi lewat plasenta terhambat bekuan darah.

Hal itu dialami Parma Andhika Puspita (36), warga Semarang, Jawa Tengah. Tiga kali dia kehilangan janin pada usia kandungan antara enam bulan dan tujuh bulan.

Pada kehamilan keempat, Andhika diperiksa dengan tes TORCH (toksoplasmosis, infeksi lain, rubela, cytomegalovirus, dan herpes simplex virus). Dari hasil tes, tidak ditemukan virus.

Setelah tes darah lain, baru diketahui, Andhika memiliki risiko trombosis, darahnya mudah mengental. Dokter mengharuskan Andhika disuntik heparin tiap hari sampai bayinya lahir. Suntikan itu diperlukan untuk mengencerkan darah sehingga pasokan oksigen dan nutrisi ke janin berjalan baik.

Bisa dicegah
Berbagai komplikasi, menurut Suharti, dapat dicegah bila trombofilia terdeteksi sejak dini.

Risiko trombofilia paling besar dialami oleh pasien operasi ortopedi. Sebab, operasi tersebut memungkinkan terjadinya kerusakan pada dinding pembuluh vena (pembuluh darah balik) yang memicu pembekuan darah. Apalagi pasien ortopedi umumnya orang berusia lanjut yang rentan terkena trombofilia.

Selain itu, pascaoperasi ortopedi biasanya orang tidak terlalu banyak bergerak. Padahal, trombosis dapat terjadi jika terjadi imobilitas (tidak bergerak) lebih dari tiga hari.

Hal serupa bisa terjadi pada seseorang yang melakukan perjalanan jauh dalam waktu lama. Duduk lebih dari tujuh jam tanpa berubah posisi mempermudah pengentalan darah.

Diagnosa trombofilia hanya dapat ditegakkan oleh dokter berdasarkan hasil tes laboratorium dan dikombinasikan dengan kondisi klinis pasien.

Jika pasien tidak bermasalah dengan dana, kata Suharti, biasanya akan dilakukan pemeriksaan antibodi, yakni anticardiolipin antibody (ACA). Jika pasien tergolong kurang mampu, dokter akan fokus pada penanganan.

Obat yang digunakan untuk penderita trombofilia bersifat memecah trombosit. Antitrombosit yang paling banyak digunakan dan paling terjangkau adalah aspirin. Namun, penderita radang lambung tidak dapat mengonsumsi obat itu. Biasanya dokter akan memberi obat lain yang tak memiliki efek samping ke lambung bagi penderita radang lambung, seperti clopidogrel.

Alternatif lain adalah obat antikoagulan yang bekerja pada plasma darah. Biasanya antikoagulan yang digunakan adalah warfarin.

Banyak pasien, tutur Suharti, bertanya sampai kapan mereka harus minum obat untuk menjaga agar darahnya tidak mengental. Saya tidak pernah bisa menjawab pertanyaan itu. Paling saya bilang obatnya dianggap vitamin saja, katanya.

Sumber: kompas.com