Tonsilektomi Perbaiki Kualitas Tidur dan Perilaku Anak

11 Agustus 2009 Artikel Kesehatan


KESULITAN napas saat tidur merujuk pada sebuah spektrum gangguan bernapas, dari ngorok hingga sindrom sleep apnea yang bersifat obstruktif, suatu kondisi di mana pasien mengalami megap-megap (suatu saat napas berhenti, lalu mulai bernapas kembali, berhenti lagi, begitu terus berulang di malam hari).

Salah satu efek sampingnya adalah rasa lelah sepanjang hari. Tak jarang, masalah berakar dari pembengkakan tonsil dan adenoid, yang merupakan jaringan yang membantu menangkap kuman yang masuk.Tonsil atau kerap disebut amandel, terletak di bagian belakang tenggorokan, sementara adenoid letaknya di antara hidung dan tenggorokan.

Studi melaporkan, anak-anak dengan gangguan napas saat tidur juga mengalami peningkatan masalah perilaku,termasuk attentiondeficit hyperactivity disorder (ADHD) dan prestasi sekolah yang buruk, sehingga timbul pemikiran bahwa kualitas tidur yang buruk turut andil dalam masalah ini.

Nah,dengan melakukan adenotonsilektomi (operasi pengangkatan tonsil dan adenoid), anak-anak tersebut tak hanya bisa tidur lebih baik, tetapi juga menunjukkan perbaikan dalam hal tingkah laku. Pada anak-anak dengan masalah perilaku,mengorok yang kronis mungkin berpengaruh terhadap masalah perilaku tadi.

Dan jika mengorok-nya diatasi, secara signifikan tampak perbaikan dalam hal kualitas hidup mereka,ujar peneliti dari FK Universitas Kansas di Kansas City,Dr Julie L Wei. Bersama timnya, Wei melakukan penelitian terhadap 117 anak dengan gangguan napas saat tidur, yang kemudian menjalani adenotonsilektomi.

Sebelum operasi dan enam bulan setelah operasi, orangtua dari anak-anak tersebut diminta mengisi kuesioner tentang gejalagejala gangguan napas saat tidur dan masalah perilaku dari anaknya, termasuk kekurangperhatian, hiperaktivitas, dan pembangkangan.

Wei dan timnya mendapati adanya hubungan antara masalah kesulitan napas anak-anak saat tidur di malamharidenganmasalahperilaku merekakeesokanharinya.Manakala gejala sulit napas saat tidur itu menurun setelah operasi,demikian halnya dengan perilaku mereka.

Studi yang dilakukan beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa tidur yang tidak berkualitas menjadi faktor yang secara signifikan berpengaruh terhadap perilaku dan emosi anak,ungkap Wei. (Rtr/inda)

Sumber: Seputar-indonesia.Com