Testosteron Dorong Perilaku Positif

17 Desember 2009 Artikel Kesehatan


HORMON testosteron seringkali disalahkan sebagai pemicu sikap agresif dan tindakan berisiko pada manusia. Tetapi studi terbaru menyebutkan bahwa hormon seks ini merupakan sumber dari sikap baik, bersahabat, serta adil pada manusia.

Permainan (game) tawar-menawar dengan melibatkan partisipan perempuan yang telah diberikan satu takar hormon atau pil placebo (tidak mengandung testosteron) menemukan, mereka yang menerima testosteron bersikap lebih adil, mengalami konflik yang lebih sedikit dan berinteraksi dengan lebih baik.

Tapi, perempuan yang mengira mereka menerima testosteron (baik mereka benar-benar menerima atau tidak) bersikap lebih tidak adil dibandingkan mereka yang meyakini menerima placebo (baik yang benar-benar menerima placebo atau yang tidak).

Menurut peneliti, konotasi negatif yang berkaitan dengan peningkatan kadar testosteron kelihatannya cukup kuat untuk menyebabkan tingkah laku sosial yang negatif, meskipun hasil tes biologi menunjukkan hal yang sebaliknya.

"Prasangka bahwa testosteron hanya menyebabkan tingkah laku agresif dan egoistis pada manusia benar-benar telah disangkal dengan adanya hasil penelitian ini," tutur pakar saraf dari University of Zurich Dr Christoph Eisenegger, seperti dikutip situs dailymail.

Detail studi

Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Nature ini, Eisenegger dan teman-temannya melibatkan 121 perempuan muda yang akan ambil bagian dalam tes pembagian uang. Aturannya mengizinkan mereka menawarkan pembagian yang adil dan tidak adil. Penawaran ini bisa diterima atau ditolak oleh pasangan mereka.

Semakin adil penawaran, maka jumlah penolakan juga semakin sedikit, dan jika tidak ditemukan kesepakatan, kedua pihak tidak akan mendapatkan apa pun. Sebelum bermain, para relawan diberikan 0.5 miligram testosteron atau placebo.

Studi menemukan, partisipan yang menerima testosteron membuat penawaran yang lebih adil dibandingkan mereka yang menerima placebo.

Pada laki-laki, testosteron hampir seluruhnya diproduksi di testis. Seiring penuaan, penurunan jumlah hormon mempunyai dampak besar terhadap dorongan seks dan tingkat energi.

Selama berpuluh-puluh tahun, literatur ilmiah populer, seni dan media telah mengaitkan hormon seks ini dengan tindakan agresif. (OL-08)

sumber: mediaindonesia.com/mediahidupsehat