Terapi Tingkah Laku Sukseskan Pelangsingan

5 Februari 2010 Artikel Kesehatan


Hampir semua orang, termasuk mereka yang obesitas, tahu bahwa olahraga baik untuk kesehatan dan mampu membentuk badan. Sebuah survei yang dilakukan George Washington University Medical Center bahkan menemukan, orang yang kelebihan berat atau obesitas justru lebih meyakini manfaat olahraga dibandingkan mereka dengan berat badan normal.

Akan tetapi, menurut survei, banyak orang yang kelebihan berat badan atau obesitas tidak suka terlihat terengah-engah di depan orang lain yang lebih muda dan langsing. Mereka juga merasa malu jika harus berkeringat di depan orang lain yang lebih berotot.

Jadi, yang membuat mereka enggan berolahraga bukan karena tidak sadar manfaatnya, tapi karena masalah emosi yang mereka hadapi.

Bagimana cara mengatasi gangguan emosi ini? Menurut terapis cognitive-behavioral James P. Krehbiel, Ed.S., dari Scottsdale, Arizona, ada beberapa teknik terapi tingkah laku yang bisa Anda coba, termasuk self-monitoring, control stimulus , memperlambat makan dan teknik kognitif.

Self Monitoring:

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk memonitor diri Anda dan memastikan bahwa Anda tidak menyimpang jauh dari pola hidup sehat. Berikut beberapa di antaranya:

Buat jurnal makanan. Karena mengetahui harus menulis apa pun yang dikonsumsi, Anda akan berpikir dua kali sebelum menentukan pilihan makanan.

Buat jurnal olahraga. Melihat kembali aktivitas apa saja yang sudah dilakukan bisa memotivasi Anda serta menjadi panduan dalam mengubah program latihan.

Lihat ukuran Anda. Skala atau angka tidak selalu menggambarkan perubahan tubuh dan bukan pertanda pasti apakah Anda mengalami penambahan otot dan menurunkan lemak tubuh. Ukuran bisa menunjukkan bahwa Anda telah kehilangan sejumlah inci, yang merupakan pertanda bahwa Anda berada di jalur yang benar.

Kontrol stimulus:

Cobalah menerapkan strategi yang mencegah godaan untuk hidup bermalas-malasan dan makan berlebih. Kontrol stimulus yang paling penting adalah mengatur lingkungan Anda. Artinya, mulailah menyingkirkan godaan dari luar rumah dan penuhi lemari pendingin Anda dengan makanan sehat.

Pastikan hanya makan di meja makan, bukan saat menonton TV. Saat makan malam selesai, bersihkan dan segera tinggalkan area dapur atau ruang makan. Kemudian segeralah gosok gigi. Dengan begitu Anda tidak akan tertarik lagi mengonsumsi kudapan.

Makan lebih lambat:

Para ilmuwan menyatakan bahwa Anda akan mengonsumsi lebih sedikit kalori jika bisa mengurangi kecepatan makan. Dengan menurunkan kecepatan, berarti Anda memberikan waktu yang cukup kepada tubuh untuk melepaskan hormon yang berfungsi menyampaikan pesan kenyang.

Perasaan kenyang dan kepuasan tidak hanya sekadar memenuhi perut dan perubahan kimia di dalam tubuh. Kepuasan yang Anda dapatkan dari makan secara perlahan akan menurun. Gigitan pertama akan terasa sangat lezat karena Anda lapar. Kesenangan terhadap makanan akan menurun saat Anda makan.

Teknik kognitif:

Sebuah studi dari Swedia menemukan bahwa terapi kognitif efektif dalam menurunkan dan mempertahankan berat badan. Pelaku diet cenderung menyimpang dari diet dengan berbagai alasan. Mereka sedih, gembira, kelelahan, stres, sedang merayakan sesuatu, bepergian, sibuk, sedang menghadiri pesta, serta sederet alasan tak berujung lainnya. Mereka meyakinkan diri bahwa tidak ada salahnya makan satu potong kecil, atau tidak seorang pun yang melihat.

Terapi kognitif akan mengajarkan Anda untuk berhenti menyalahkan diri sendiri, mencaritahu akar masalah dengan realistis, serta menentukan tujuan dan perubahan apa yang perlu dilakukan. Terapis juga membantu Anda untuk memperbaiki persepsi salah atau pikiran negatif mengenai tubuh Anda sendiri. (IK/OL-08)

sumber: mediaindonesia.com/mediahidupsehat