Terapi Lumba-Lumba Tidak Lebih Baik

31 Maret 2011 Artikel Kesehatan


JAKARTA - Benarkah terapi lumba-lumba dapat membantu menyembuhkan autisme? Mungkin di antara Anda ada yang percaya maupun tidak. Namun, yang pasti, terapi lumba-lumba tidak jauh lebih baik ketimbang cara sederhana yang dapat dilakukan sendiri seperti terapi okupasi, wicara, dan tingkah laku.

Autisme adalah gangguan perkembangan yang sangat kompleks pada anak-anak. Seorang anak yang mengalami autisme biasanya mengalami hambatan perkembangan dalam hal berkomunikasi, berinteraksi sosial, dan berperilaku.

Selama ini, banyak yang beranggapan terapi lumba-lumba dapat membantu perkembangan saraf seorang anak penyandang autis. Akan tetapi, menurut pendiri Masyarakat Peduli Autis Indonesia (MPATI) Gayatri Pamoedji SE MHc, sebenarnya dengan kita melakukan tiga jenis terapi sudah cukup. Ini karena, menurut dia, itu adalah bagian dasar yang harus diberikan kepada anak penyandang autis.

"Dengan tiga terapi tersebut, seorang anak bisa diajarkan bagaimana dia duduk diam, patuh, dan bicara. Kalau ketiga terapi itu sudah berhasil, baru boleh terapi lumba-lumba," ujar Gayatri, saat peluncuran komik autis pertama autisme, Rabu (30/3/2011) di Jakarta.

Menurut Gayatri, sejauh ini belum ada penelitian yang pasti mengenai keberhasilan terapi lumba-lumba untuk penyandang autisme.

"Sampai saat ini, terapi lumba-lumba belum ada research yang pasti dari negara mana pun yang membuktikan kalau itu berhasil. Yang ada hanyalah testimoni orang tua," pungkasnya.

Sumber: komas.com