Terapi Kejut Listrik Sembuhkan Depresi Akut

20 Agustus 2010 Artikel Kesehatan


Pengobatandengan terapi electroconvulsive therapy (ECT) memang sempat menjadi kontroversi walau dinyatakan sangat aman dan tak memiliki efek samping yang berbahaya. Secara umum, ECT digunakan sebagai pilihan pengobatan terakhir terutama pada anak dan remaja. Namun, hal ini dilakukan setelah semua metode dan pengobatan pada pasien dinilai tak berhasil.

Pada pasien yang mengalami depresi yang tergolong akut dan sudah kebal terhadap obat antidepresan, terapi ECT patut dipertimbangkan. Biasanya terapi ini dilakukan sebanyak 6 hingga 12 kali, meski pada beberapa kasus hanya membutuhkan 2-3 kali perawatan.

Efek samping setelah menjalani ECT di antaranya hilang ingatan sementara dan aritmia. Peneliti berhipotesis bahwa ECT memiliki efek reseptor yang sama seperti halnya antidepresan. Ada juga beberapa pasien yang mengalami sakit secara fisik karena tak tahan menerima efek samping pengobatan itu.

Namun, dalam penelitian terhadap pasein yang menjalani terapi ECT, ditemukan bahwa 80 persennya merasa sangat terbantu dengan pengobatan tersebut. Sebanyak 75 persen bahkan mengaku tak merasa takut lagi menjalani ECT seperi halnya waswas saat ke dokter gigi.

ECT dilakukan dengan mengirimkan sinyal listrik ke otak yang menyebabkan kejang sementara. Mesti terlihat menakutkan, tak perlu khawatir karena sebelum menjalaninya pasein terlebih dahulu diberikan anestesi umum untuk menghilangkan rasa sakit pada tubuh. Rangkaian terapi ECT biasanya dilakukan 6-12 kali selama beberapa minggu.

Keluhan paling umum setelah menjalani ECT yakni mengalami kehilangan ingatan ringan. Selain itu, keluhan lain yakni sakit kepala, nyeri otot, sakit, mual san bingung.

Walaupun tren terapi ini sempat menurun di Inggris, tapi hingga kini ECT masih merupakan pilihan untuk mengatasi pasien yang menagalami gejala dpresi. Terkadang terapi ini sangat dibutuhkan unutk mereka yang sudah mengalami dpersi tahap akut hingga berkeinginan bunuh diri atau tak mau makan dan minum.

ECT dilakukan dengan mengalirkan listrik melalui dua elektroda yang dilekatkan pada daerah temporal kepala. Sebelum menjalani pengobatan, pasien diberikan anestesi umum dan menerima relaksasi otot guna mencegah cedera. (Pri/OL-06)

Sumber: mediaindonesia.com