Terapi Bicara Redakan Sakit Punggung

3 Maret 2010 Artikel Kesehatan


Terapi bicara durasi singkat membuat ratusan penderita sakit punggung kronis merasa lebih baik.

Studi yang dipublikasikan di Lancet mengungkap bahwa diskusi selama sembilan jam dan saran-saran yang diterima dari teman atau dokter secara signifikan meredakan rasa sakit dan kekakuan. Para partisipan mengalami peningkatan kualitas hidup dan masih menikmati hasilnya hingga setahun ke depannya.

Dalam studi ini, tim dokter dari Warwick University melibatkan 700 laki-laki dan perempuan penderita gangguan punggung. Hampir 50 persen partisipan menyatakan merasa sangat kesakitan atau sangat terganggu kemudian diberikan saran untuk menghindari aktivitas tidur-tiduran, tetap aktif dan menggunakan obat penghilang rasa sakit.

Sekitar 66,6 persen partisipan diminta menjalani enam sesi terapi kognitif behavioural (cognitive behavioural therapy/CBT) untuk berbicara dan berpikir mengenai rasa sakit dan gangguan mereka.

Sebagai contoh, mereka yang menghindari olahraga dengan alasan takut menyakiti punggung diberitahu bahwa kurang aktivitas fisik justru akan membuat mereka semakin tidak fit. Sebagai akibatnya, kondisi punggung mereka akan bertambah buruk.

Berpikir positif

Mereka didorong untuk berpikir positif dan secara bertahap menjadi lebih aktif, melakukan olahraga dan hobi yang sebelumnya sangat mereka nikmati.

Melakukan pengobatan dalam kelompok, menurut peneliti, memungkinkan partisipan bertemu orang lain dengan gangguan yang sama. Selain itu, biayanya juga lebih murah.

"Percobaan ini menunjukkan bahwa paket terapi ini efektif mengontrol sakit punggung bawah yang subakut atau yang kronis," tutur peneliti Profesor Sarah Lamb, seperti dikutip situs dailymail.com.

Pakar sakit punggung dari Amerika Serikat Dr Laxmaiah Manchikanti menyebutkan bahwa hasil studi ini cukup mengesankan."Efektivitas dan biaya pengobatan ini lebih baik dibandingkan akupunktur, olahraga, pijat dan pendekatan postur tubuh lainnya."

Secara umum, terang dia, hasil ini menunjukkan bahwa CBT merupakan pilihan awal yang baik untuk para dokter sebelum mereka merujuk pasien ke konsultan spesialis. (IK/OL-08)

sumber: mediaindonesia.com/mediahidupsehat