Artikel Kesehatan
14 Januari 2010

Tentang Anak Cerebral Palsy

Setiap keluarga mendambakan keturunan yang dikandung sehat, lahir selamat dan tumbuh kembang sempurna, namun tidak semua pasangan memiliki keberuntungan yang sama. Sebagian mempunyai anak yang tidak berkembang akibat kelainan atau cacat pada jaringan otak yang belum selesai pertumbuhannya.

Kelainan tersebut dinamakan Cerebral Palsy (CP) dalam bahasa Indonesia disebut palsi serebral. Jumlah penderita CP ternyata cukup banyak, di negara barat sekitar 2 sampai 2.5 dari tiap 1000 kelahiran hidup terjadi CP , (Rosenbaum , P: BMJ 3 May 2003). Di Amerika diestimasikan setiap tahun sekitar 10,000 bayi lahir akan menjadi CP. (National Institute of Neurological disorders and Stroke . National Institutes of Health July 2006)
Apa itu Cerebral Palsy?
Cerebral palsy, suatu umbrella term yaitu terminologi payung untuk mendiskripsi adanya kelainan sel-sel motorik pada otak yang belum selesai masa pertumbuhannya, bersifat kronik dan tidak progresif. Diskripsi itu pertama kali diajukan William John Little (1843), disebut sebagai cerebral diplegia, sedangkan istilah cerebral palsy pertama kali diperkenalkan oleh Sir William Olser.
CP sering dikacaukan dengan retardasi mental, walau sama-sama berhubungan dengan kelainan otak namun keduanya berbeda. Retardasi mental berhubungan dengan fungsi otak untuk belajar dan kemampuan untuk mengerti, sedangkan CP berhubungan dengan fungsi motorik. CP tidak sepenuhnya gangguan motorik tetapi juga sebagian sensorik sehingga sering disebut sensorimotor disorder. Namun CP dan retardasi mental bisa terjadi bersamaan.
Gambaran KlinikGambaran klinik CP bermacam - macam tergantung dari bagian dan luasnya jaringan otak yang mengalami kerusakan.
Terjadi kelumpuhan, bisa hanya satu anggota badan dapat pula semuanya. Kelumpuhan ada tipe lemas (flaccid) atau tipe kaku (spastik), dan terbanyak adalah tipe spastik. Pada tipe spastik gejala yang hampir selalu ada adalah terjadi fenomena posisi pisau lipat pada tungkai. Timbul gerakan tak beraturan atau involunter, bisa terjadi gangguan koordinasi tonus otot menurun (hipotoni), perkembangan motorik yang terlambat. Mulai berjalan sangat lambat, dan semua pergerakan serba canggung. Timbul kejang, bersifat umum atau fokal, sebagian kasus terjadi gangguan perkembangan mental, gangguan penglihatan (misalnya juling atau kelainan refraksi), dapat pula terjadi gangguan bicara. Kategori CP: Ringan: Anak masih dapat melakukan pekerjaan/aktivitas sehari hari, sedikit sekali membutuhkan bantuan khusus. Sedang: Aktivitas terbatas anak membutuhkan bermacam-macam bantuan atau pendidikan khusus agar dapat mengurus dirinya sendiri, dapat bergerak atau berbicara.Berat: Anak sama sekali tidak dapat melakukan aktivitas fisik secara normal dan tidak mungkin dapat hidup tanpa pertolongan orang lain. Tidak semua CP mengalami retardasi mental, pada sebuah publikasi disebutkan 25 kasus CP intelegensinya rata-rata atau normal , dan 30 kasus nilai IQ di bawah 70. (I Made Oka Adnyana: Cerebral Palsy Ditinjau dari Aspek Neurologi Cermin Dunia Kedokteran No. 104, 1995)
Mengapa Terjadi CP?
Banyak faktor penyabab terjadinya CP, lebih dari 80 terjadi karena faktor sebelum kelahiran bayi dan hanya 6-7 disebabkan faktor kelahiran dan sisanya pasca kelahiran.
Penyebab masa pranatal misalnya terjadinya malformasi janin, infeksi janin, terpapar radiasi, keracunan kehamilan dll.Penyebab pada proses kelahiran misalnya kekurangan oksigen, perdarahan otak, trauma kelahiran dan juga prematuritas. Setelah kelahiran atau postnatal misalnya trauma kepala, infeksi, juga kern icterusDiagnosis Diagnosis perlu melibatkan berbagai bidang keahlian antara lain dokter anak, dokter mata, THT, syaraf, psikolog dan sebagainya.

Perlukah sekian banyak bidang? Jawabannya adalah: perlu, misalnya ahli psikologi diperlukan untuk menentukan tingkat kemampuan intelektual yang akan menentukan cara pendidikan apakah ke sekolah umum atau ke sekolah luar biasa. CP sulit dideteksi pada bayi baru lahir. Sebagian besar baru dapat didiagnosis antara 6-12 bulan. Sebagian ahli menyebutkan bahwa CP baru dapat dideteksi pada umur 12-18 bulan kecuali pada kasus CP yang sangat ringan (Rosenbaum.P: BMJ 2003; 326: 970 - 974).
Tatalaksana CPB Anak

Setelah diagnosis terus bagaimana?
Yang paling awal adalah orang tua perlu mengetahui secara detil tentang keadaan putranya sehingga pertama kali yang harus dilakukan dokter namun seringkali sulit adalah Breaking the news. Breaking the news disini dalam arti menjelaskan pada orang tua tentang CP pada putranya. Orang tua juga perlu tahu bahwa belum ada obat spesifik yang di klaim dapat menyembuhkan CP, perlunya dilakukan comprehensive assessment untuk menetapkan tatalaksana secara multi disiplin dan seterusnya.

Terapi dilakukan oleh tim multidisiplin untuk membantu pasien dan keluarganya memperbaiki fungsi motorik, mencegah deformitas serta penyesuaian emosional dan pendidikan sehingga penderita sesedikit mungkin memerlukan pertolongan orang lain, bisa mandiri.

Pendidikan disesuaikan dengan tingkat kecerdasan penderita, anak CP dengan intelegensia normal dididik di sekolah normal, tidak digabungkan dengan anak terbelakang .

Physiotherapy, Occupational therapy bermanfaat mencegah atau mengurangi gejala-gejala neurologik, dan diharapkan meningkatkan kemampuan untuk menolong diri sendiri.

Farmakoterapi tergantung indikasi, misalnya obat anti kejang, obat untuk mengurangi kekakuan antara lain botulinum toksin.
Tindakan bedah tulang maupun bedah saraf apabila diperlukan untuk rekonstruksi deformitas yang terjadi. Saudara KandungJangan abaikan saudara sekandung yang lain. Cerebral palsy termasuk pada kelompok anak berkebutuhan khusus (ABK) yaitu kelompok anak yang menderita cacat fisik, keterbelakangan mental, autis dan lain-lain, biasanya mendapatkan perhatian lebih dari orangtuanya sementara saudara sekandung (sibling) seringkali tersisihkan.

Orang tua perlu mengetahui kemungkinan perasaan saudara kandung yaitu:

Perasaan malu. Sering dialami akibat penampilan fisik saudaranya yang tidak normal atau tingkah laku yang aneh (bersuara tidak biasa, bicara memalukan), adanya komentar negatif dari teman di sekolah atau anggota keluarga. Merasa bersalah. Sebagian merasa bersalah karena menganggap merekalah penyebab kakak/adiknya mengalami gangguan, kadang juga merasa bersalah karena normal. Pada anak yang beranjak dewasa, ada rasa bersalah bila meninggalkan rumah untuk kuliah atau bila tidak ikut merawat saudaranya .Merasa sendirian, kurang perhatian, dan kesepian. Mereka merasa terisolasi, tidak ada yang bisa memahami perasaannya, dan tidak ada teman lain yang senasib. Umumnya enggan mengajak teman-temannya bermain ke rumah karena malu memiliki kakak/adik yang berperilaku aneh. Marah dan kesal. Ini bersumber dari perlakuan orangtua yang dirasakan tidak adil. Mereka harus mengikuti aturan, mendapat tanggungjawab tambahan, kurang diperhatian, sementara saudaranya yang ABK amat diperhatikan. Cemburu dan iri. Mereka merasa perlakukan dan perhatian orangtua cenderung berat sebelah, dituntut terlalu tinggi. Mereka merasa sudah berprestasi namun kurang mendapat pujian dan penghargaan dari orangtua.Khawatir dan cemas. Sering dilanda khawatir dan cemas karena sangat kurang informasi pada mereka tentang penyakit yang menimpa saudaranya sesuai pemahaman anak. Apa yang dapat dilakukan orang tua: Beri informasi yang tepat. Saudara ABK amat membutuhkan informasi yang tepat mengenai keadaan penyakit saudaranya, beri penjelasan sesuai dengan usia dan pemahaman anak. Bila orangtua bersikap terbuka dan bisa menerima kondisi anak, proses penerimaan pada saudaranya juga lebih cepat.Sediakan waktu khusus. Luangkan waktu khusus sehingga mereka merasa bahwa dirinya juga istimewa dan juga memperoleh perhatian penuh dari orangtua.Tanggung jawab yang sesuai. Tanpa disadari orangtua sering memberi tanggung jawab berlebih terutama kakak/adik perempuan, berilah tanggung jawab secara bertahap sesuai usia. Dengarkan dengan empati. Mereka membutuhkan orangtua yang mau mendengarkan tanpa memberi penilaian atau kritik, luangkan waktu untuk berbicara, pahami dan terimalah pemikiran serta perasaannya.Beri penghargaan. Berikan penghargaan dengan tulus atas segala usaha dan bantuan yang telah dilakukannya, kesempatan yang luas untuk mengembangkan diri di luar rumah, misalnya dengan mengikuti olahraga, musik, seni, berbagai lomba, dan sebagainya. Seperti halnya para orangtua, saudara ABK membutuhkan kelompok yang memahami pengalaman khusus mereka. Apabila orangtua berhasil menanamkan pengertian dan memperhatikan mereka dengan baik, saudara ABK akan memiliki karakteristik positif yaitu:
Senang membantu orang lainMenghargai perbedaanMemahami perasaan orang lain4. lebih matang secara emosional, bangga akan prestasi kakak/adik yang cacat dan motivasi yang tinggi untuk berprestasi.(13) dr Bimosekti Wiroreno SpA, RS Hermina Pandanaran Semarang Sumber: Suaramerdeka.Com

Artikel Kesehatan Lainnya...

Direktori Sekolah Info Beasiswa Solusi Pendidikan Promo Tahukah Kamu? Hiburan Tutorial Karir Iklan Baris