Susu Penuhi Kebutuhan Gizi Seimbang

11 Agustus 2009 Artikel Kesehatan


JAKARTA- Kini slogan empat sehat lima tak banyak lagi digaungkan. Pasalnya, membuat masyarakat yang salah persepsi dengan menganggap susu hanya sebagai pelengkap menu sehari-hari. Padahal kurang konsumsi susu bisa menyebabkan tubuh kekurangan gizi mikro. Terlebih pada anak-anak yang membutuhkan manfaat susu untuk pertumbuhan yang optimal.

Dalam rangka Memperingati Hari Susu Nasioinal pada 1 Juni 2009, diharapkan kesadaran masyarakat akan pentingnya susu dapat meningkat signifikan. Hal tersebut disampaikan Direktur Bina Gizi Masyarakat, Departemen Kesehatan, dr. Ina Hernawati pada media seminar pencanangan 'Hanya Susu Segar Untukku' yang diprakasai oleh Tetra Pak Indonesia dan Departemen Pertanian di Jakarta, baru-baru ini.

"Untuk dapat meningkatkan kualitas gizi masyarakat Indonesia, terlebih dahulu kita perlu meningkatkan kesadaran masyarakat akan gizi seimbang," ungkap Ina.

Susu sapi segar, dikatakan Ina, merupakan salah satu makanan cair yang diperlukan oleh tubuh untuk mendapatkan gizi seimbang, karena susu segar mengandung kalsium, protein, vitamin dan mineral yang diperlukan oleh tubuh.

Agar anak Indonesia tuumbuh kembang dengan baik pemberian Air Susu Ibu menjadi keharusan. Selama enam bulan pertama berikan hanya air susu ibu (ASI). Kemudian anak dapat minum susu alami 3-4 gelas per hari di samping makanan bergizi lainnya. Seterusnya, susu sangat baik diminum sepanjang masa untuk kesehatan.

Ina menjelaskan, susu sapi memberi energi 61 kilokalori per 100 mililiter, whole milk 68 Kkal/1 00 ml, dan susu skim memasok energi 35 Kkal/100 ml. Tingginya kalori dalam susu sangat cocok diberikan pada orang yang kebutuhan energinya tinggi atau meningkat terutama ibu hamil, anak, remaja dan lanjut usia.

"Minum dua kali satu gelas per hari, dengan takaran 200 cc per gelas. Ini bisa memenuhi 250 kilokalori per hari atau seperenam dari kebutuhan remaja," ujarnya.

Susu merupakan salah satu sumber karbohidrat. Laktosa sebagai bentuk karbohidrat dalam susu. Gula laktosa kurang manis sehingga kurang merusak gigi. Ina menganjurkan agar masyarakat minum susu tanpa gula untuk mengurangi risiko diabetes.

Kandungan protein dalam susu penting untuk pertumbuhan, mengganti bagian rusak, memproduksi hormon dan enzim dalam tubuh. Protein susu mempunyai nilai biologi tinggi yang memberi asam amino esensial yang tidak dapat diproduksi tubuh. Sebagian besar protein susu adalah casein dan 20 persen whey yang terdiri dari albumin dan globin, ini penting untuk kekebalan tubuh.

Selain itu, susu juga mengandung lemak sebagai sumber vitamin larut lemak yaitu vitamin E, vitamin A dan D, sumber lemak esensial serta hormon. Juga air untuk melarutkan vitamin yang larut dalam air seperti vitamin C, B kompleks.

Susu juga sumber magnesium yang penting untuk pembentukan tulang, protein dan fungsi saraf, zinc mineral untuk pertumbuhan, meningkatkan daya tahan tubuh dan mempercepat penyembuhan luka.

Masih Rendah

Konsumsi susu di Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan negara Asia lainnya, yaitu hanya 10 liter per kapita per tahun yang artinya jika dirata-rata konsumsi susu dari usia balita hingga usia lanjut tidak lebih dari setetes.

Direktur Pengolahan Pangan Panen Hasil Pertanian, Departemen Pertanian, Ir. Chairul Rahman MM mengatakan, Indonesia sebenarnya memiliki prospek pengembangan sapi perah yang relatif besar dengan pertumbuhan mencapai 7,3. Namun jumlah tersebut belum mencukupi sehingga Indonesia masih harus mengimpor susu sapi ke negara lain.

Produksi susu nasional yang hanya dapat memenuhi kebutuhan konsumsi susu nasional sebesar 23,45 atau sebanyak 2,19 kg per kapita tiap tahun menjadi kendala rendahnya konsumsi susu di Indonesia. Akibatnya banyak Industri Pengolah Susu (IPS) mengimpor susu sapi dengan harga yang relatif mahal. Mahalnya susu sapi yang di jual dipasaran dengan kualitas bagus berimbas pada rendahnya daya beli masyarakat terhadap susu sapi olahan IPS. Tak heran jika konsumsi susu sapi di indonesia masih rendah.

"Untuk menekan import susu dan mengembangkan industri susu sapi diperlukan upaya untuk menstimuli kelompok peternak sapi perah agar menghasilkan kualitas susu yang lebih baik dengan kuantitas yang lebih banyak," ungkap Chairul.

Untuk mencapai ketahanan pangan dan peningkatan produksi susu sapi nasional, pemerintah menargetkan pasokan susu lokal untuk IPS mencapai 40 di tahun 2010 dan 50 di tahun 2014 dengan target penambahan populasi mencapai 500.000 ekor sapi perah.

Program aksi pemerintah yaitu membantu sarana pasca panen dan pengolahan, meningkatkan pemasaran dengan menjual produk susu ke konsumen langsung dan program kemitaraan dengan sistem klaster.

Sistem klaster yang dimaskud Chairul adalah rantai produksi susu dari kelompok peternak lokal yang terdiri dari 10 peternak kemudian hasil produksinya di olah olah satu badan atau inti yang akan langsung memasarkan produk susu ke pasaran.

"Dengan sistem klaster maka produksi susu peternak dapat dipantau sehingga menghasilkan produk susu yang sesuai dengan Standar Nasional Indonesia dan dapat dipasarkan ke masyarakat dengan harga yang terjangkau," imbuh Chairul.

Chairul menambahkan peran serta pemerintah daerah juga sangat berpengaruh. Sejauh ini sudah ada beberapa daerah yang menganggarkan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk mendanai pemberian susu sapi pada siswa sekolah dasar dan menengah pertama. (cr1/rin)

Sumber: Republika Online