Sumber Daya Hayati Potensial Kembangkan Industri Herbal

16 September 2009 Artikel Kesehatan


"Apalagi obat herbal merupakan salah satu alternatif untuk pengobatan yang murah, sehingga prospek obat jenis ini ke depan cukup baik," kata Presiden Direktur PT Ny Meneer, Dr Charles Saerang pada talk show pemantapan sumber daya hayati lokal untuk mendukung bisnis dan industri obat herbal, di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Kamis.

Ia menyebutkan di Indonesia terdapat sekitar 9.606 spesies tanaman obat, namun hanya 350 spesies di antaranya yang teridentifikasi, dan hanya sekitar tiga hingga empat persen yang dimanfaatkan secara komersial.

Menurut dia, perlu ada eksplorasi dan pengembangan agar sumber daya hayati lokal menjadi obat herbal yang diakui melalui uji klinis.

"Tantangan besar yang dihadapi untuk memajukan obat herbal lebih pada permasalahan pengolahan sebuah tanaman hingga menjadi obat yang memenuhi syarat dan membutuhkan teknologi yang berkelanjutan," katanya.

Dia mengatakan ada tiga uji yang harus dilakukan dalam menghasilkan obat dari bahan baku herbal, yakni standarisasi bahan baku obat, uji pra klinis dan uji klinis.

"Uji standarisasi bahan baku yaitu yang menentukan identifikasi bahan yang berkhasiat secara seksama sampai mendapatkan produk yang terstandarisasi, uji praklinik yakni mencakup uji khasiat dan toksinitas, serta uji klinik yaitu uji yang dilakukan pada manusia, dan biasanya dilakukan di rumah sakit," katanya.

Sementara itu, Prof J Situmorang dari Fakultas Teknologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta mengatakan ada sekitar 30.000 jenis tumbuhan obat yang dimiliki Indonesia, dan ini memiliki potensi untuk mengembangkan produk herbal yang kualitasnya setara dengan obat modern.

"Namun, sumber daya tersebut belum dimanfaatkan secara optimal bagi kepentingan masyarakat, dan baru sekitar 1.200 spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan dan diteliti sebagai obat tradisional," katanya.

Menurut dia, beberapa spesies tumbuhan obat yang berasal dari hutan tropis di Indonesia justru dimanfaatkan negara lain.

"Saat ini ada sekitar 40 senyawa aktif dari tanaman obat di Indonesia yang justru telah dipatenkan oleh peneliti Jepang," katanya.

Ia mengatakan kecenderungan masyarakat dunia untuk kembali ke alam, membawa perubahan pada pola konsumsi obat ke obat-obatan yang terbuat dari bahan alami.

"Berdasarkan data WHO, sekitar 80 persen penduduk dunia dalam perawatan kesehatannya memanfaatkan obat tradisional yang berasal dari ekstrak tumbuhan. Ini merupakan peluang bisnis bagi Indonesia untuk mengembangkan budidaya agribisnis tumbuhan obat maupun industri pengolahannya," katanya.

Sementara itu, pengajar di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Yustina Sri Hartini MSi Apt mengatakan dewasa ini masyarakat sudah mulai memiliki paradigma untuk kembali ke alam, dan ini hendaknya tidak hanya dipahami sebagai sikap menghargai apa pun yang bersumber dari alam, namun penting juga memahami bahwa mengkonsumsi bahan alam tersebut juga berarti ada substansi kimia dari alam yang masuk ke tubuh.

"Riwayat pemakaian obat tradisional yang diturunkan dari nenek moyang ke generasi berikutnya seolah membuktikan bahwa obat tradisional itu aman dan bermanfaat. Namun, faktanya WHO melaporkan bahwa terjadi efek yang tidak diinginkan, akibat dari bahan yang berasal dari tumbuhan obat itu sendiri," katanya.

Ia mengatakan efek tersebut juga karena kesalahan dalam mengambil jenis tanaman, ketidaktepatan dosis, kesalahan penggunaan oleh konsumen, maupun oleh para profesional kesehatan interaksi dengan obat lain.

"Selain itu, juga akibat penggunaan obat tradisional yang terkontaminasi dengan bahan atau mikroba pathogen serta residu agrokimia," katanya.

Sumber: ANT

KOMPAS.com