Stroke, Pahami dengan Benar Penyebabnya dan Hindarilah Bagian 2

17 November 2014 Artikel Kesehatan   |    dr. Kosasi Kwek


Penjelasan sebelumnya disini

Stroke: Apa dan mengapa ?

Pada saat serangan stroke terjadi, ada dua kemungkinan kejadian yang berlangsung di dalam otak, yaitu:

  1. Ada pembuluh darah yang tersumbat di dalam otak.
  2. Ada pembuluh darah yang pecah di dalam otak.


Dua keadaan/kejadian ini yang disebut mekanisme terjadinya stroke, atau dalam dunia medis dinamakan "patofisiologi" stroke.


Pembuluh darah yang tersumbat di dalam otak berakibat suplai darah untuk otak berkurang/terganggu, menimbulkan gejala-gejala dan tanda-tanda stroke. Stroke yang disebabkan oleh sumbatan pembuluh darah otak disebut Stroke Iskhemik.


Darah yang keluar dari pembuluh darah yang pecah di dalam otak menghasilkan tekanan tinggi di dalam otak, menekan jaringan otak di sekitarnya, menimbulkan gejala-gejala dan tanda-tanda stroke. Stroke yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah dalam otak disebut Stroke Hemoragik..

Baik stroke hemoragik (stroke perdarahan) maupun stroke iskhemik (stroke penyumbatan) mempunyai faktor resiko dan penyebab yang sama, yaitu kondisi atau penyakit apapun yang menimbulkan/memicu kenaikan tensi atau hipertensi. Oleh karena itu, kita harus mengerti: mengapa kita bisa mengalami kenaikan tensi atau hipertensi. Dengan mengerti penyebab-penyebab kenaikan tensi dan hipertensi, diharapkan kita menjadi mengerti dan dapat menghindari/mencegah kejadian stroke.

Di antara semua penyebab kenaikan tensi atau hipertensi yang ada, lima besar penyebab stroke yang tersering adalah:

  1. Hiperkolesterolemia (kelebihan kadar kolesterol dalam darah)
  2. Diabetes Mellitus (Kencing Manis)
  3. Penyakit Jantung
  4. Rokok
  5. Hipertrigliseridemia (kelebihan kadar lemak darah).


Khusus untuk stroke perdarahan, ada satu lagi penyebab lain yang bersifat bawaan, yaitu pecahnya aneurisma otak. Aneurisma adalah pembuluh darah yang tidak normal bentuknya, yaitu berupa pembuluh darah yang menggembung atau ‘melentung’, sementara pembuluh darah yang normal berbentuk seperti tabung/pipa.

Aneurisma merupakan kelainan bawaan lahir, menjadi titik lemah yang sewaktu-waktu bisa pecah, sehingga menimbulkan perdarahan di dalam otak, menyebabkan stroke hemoragik (stroke perdarahan).

Gejala dan Tanda-tanda Stroke

Gejala dan tanda-tanda stroke sangat tergantung dari pembuluh darah mana di dalam otak yang mengalami sumbatan atau yang pecah; juga sangat tergantung dari seberapa luas jaringan otak yang terpengaruh oleh sumbatan atau perdarahan tersebut.

Oleh karena itu, gejala dan tanda-tanda stroke juga bisa sangat bervariasi, dari ringan sampai berat, bahkan sampai kematian mendadak.

Sering-walaupun tidak selalu, terdapat gejala-gejala yang mendahului serangan stroke, seperti:

  • sakit kepala
  • pusing berputar (vertigo)
  • oyong-oyong (dizziness)
  • elinga berdengung / berdenging
  • mual sampai muntah-muntah
  • berkeringat dingin, termasuk berkeringat separuh badan.


Gejala dan tanda-tanda stroke antara lain:

  • lumpuh separuh wajah, mulut tampak asimetris/’mencong’.
  • lemah sampai lumpuh separuh badan (lengan dan tungkai).
  • kebas atau kesemutan separuh wajah.
  • kebas atau kesemutan separuh badan (lengan dan tungkai).
  • bicara jadi cadel atau ‘pelo’.- tidak bisa bicara.
  • tidak bisa mengerti/menangkap pembicaraan orang lain.
  • gangguan ingatan/memori.- gangguan pendengaran.
  • gangguan penglihatan.
  • gangguan kontrol buang air kecil.
  • gangguan emosi dan mental.
  • mendadak koma (tidak sadar), tampak tidur mendengkur/’mengorok’.


Gejala dan tanda-tanda stroke sungguh sangat bervariasi dan banyak; yang tertulis di atas hanya sebagian kecil saja, yang mudah dikenal/dideteksi oleh semua kalangan - termasuk masyarakat awam. Yang menjadi prinsip adalah: gejala dan tanda-tanda stroke selalu terjadi secara mendadak.

Stroke: " Selama ini tidak ada sakit apa-apa kok bisa kena stroke ? "

Ini adalah salah satu pertanyaan yang sering ditanyakan oleh keluarga dan orang-orang dekat penderita stroke. Seperti telah diterangkan di atas, stroke selalu ada penyebab dasarnya, dan penyebab dasar tersebut tidak selalu menimbulkan keluhan/gejala pada penderita. Banyak orang merasa, jika tidak merasakan sakit apa-apa, tidak mengalami keluhan apa-apa, berarti tidak mengidap penyakit apapun. Dan salah satu "kesalah pahaman nasional terbesar" kita adalah: "tensi tinggi (hipertensi) menyebabkan keluhan-keluhan kepala seperti sakit kepala, pening, pusing berputar, oyong-oyong, migrain, dan sebagainya". Akibatnya, dari Sabang sampai Merauke, mayoritas masyarakat kita sering merasa: "kalau tidak pusing, kalau tidak ada keluhan-keluhan kepala, berarti tensi tidak tinggi". Kesalahpahaman inilah yang membuat mayoritas dari kita tidak pernah atau tidak rutin memantau tekanan darah kita, kadar gula darah kita, kadar kolesterol kita, kadar trigliseride kita. Maka tidak heran, saat seseorang terserang stroke, keluarga dan orang-orang terdekat sering menanyakan pertanyaan di atas.

Pahami Dengan Benar Penyebab Stroke Dan Hindarilah Stroke

Jika selama ini kita ‘terjebak’ dalam pemikiran bahwa stroke disebabkan oleh hipertensi atau kenaikan tensi, maka setelah membaca tulisan ini diharapkan kita menjadi mengerti dan waspada, bahwa di balik hipertensi atau kenaikan tensi, ada penyebab-penyebab sesungguhnya dari stroke.

Penyebab-penyebab dan faktor resiko stroke tersebut mungkin ada pada diri kita, orang tua kita, saudara-saudara kita, anak-menantu kita, sanak famili kita, orang-orang dekat di sekitar kita, yaitu: kelebihan kolesterol, diabetes, penyakit jantung, rokok, dan kelebihan trigliseride (lemak darah).

Salah satu penyebab yang sering luput dari perhatian semua kalangan (termasuk kalangan medis) adalah rokok. Ada banyak contoh kasus di mana penderita stroke tidak berkolesterol tinggi, tidak diabetes, tidak berlemak darah tinggi, tidak hipertensi, tapi perokok berat atau bersuamikan perokok berat, atau hidup di antara anak-anak/menantu perokok berat. Kenyataan yang sering terjadi adalah: setelah kena stroke baru keluar nasehat untuk berhenti merokok, setelah kena stroke baru mau berhenti merokok. Kita seharusnya menasehati perokok untuk berhenti merokok sebelum terserang stroke; kita seharusnya berhenti merokok sebelum terserang stroke.

Dengan mengerti semua penyebab dan faktor resiko stroke, kita berkesempatan untuk mengubah keadaan, mengubah kebiasaan/gaya hidup kita yang salah, dan dengan demikian kita dapat mencegah/menghindari stroke.

(Penulis adalah seorang dokter umum, tulisan lainnya dapat dilihat di kompasiana.com/dr.Kosasi)