Stres Saat Kehamilan Membahayakan Bayi

3 Mei 2012 Artikel Kesehatan


Stres yang dialami ibu selama trimester pertama kehamilan dapat menyebabkan kekurangan zat besi pada bayi baru lahir, sehingga menempatkan bayi pada risiko keterlambatan perkembangan fisik dan mental. Demikian hasil studi terbaru yang dipresentasikan pada pertemuan tahunan Pediatric Academic Societies (PAS) pada 29 April 2012.

Zat besi sangat berperan penting dalam pengembangan sistem organ, terutama otak. Defisiensi zat besi pada bayi umumnya dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kekurangan zat besi pada ibu hamil, diabetes, merokok selama kehamilan, kelahiran prematur dan bayi berat lahir rendah.

Para peneliti dari Ashkelon Academic College and Barzilai Medical Center di Israel dan University of Michigan mengklaim temuan mereka sebagai studi pertama yang menunjukkan bahwa stres yang dialami oleh ibu di awal kehamilan sebagai faktor risiko kekurangan zat besi pada bayi baru lahir.

Dalam kajiannya, peneliti melibatkan sejumlah wanita Israel yang tinggal di daerah konflik, di mana ada lebih dari 600 serangan roket terjadi selama trimester pertama kehamilan. Kemudian peneliti membandingkan kelompok wanita ini dengan kelompok wanita yang juga tinggal di daerah yang sama tapi kelompok wanita ini baru hamil tiga sampai empat bulan setelah serangan roket berhenti.

Hasil pengujian darah tali pusat yang dikumpulkan dari bayi baru lahir menunjukkan, sebanyak 63 bayi yang lahir dari ibu yang stres memiliki kadar besi secara signifikan lebih rendah ketimbang 77 bayi yang lahir dari ibu yang tidak stres.

"Temuan kami menunjukkan bahwa bayi dari ibu yang mengalami stres selama kehamilan adalah kelompok risiko yang sebelumnya tidak dikenal sebagai faktor untuk kekurangan zat besi. Ibu hamil harus menyadari bahwa kesehatan mereka, gizi, tingkat stres dan keadaan pikiran akan mempengaruhi kesehatan bayi mereka," kata pemimpin studi Rinat Armony-Sivan, dari Ashkelon Akademik College.

Armony menganjurkan, dokter anak mungkin dapat mempertimbangkan untuk melakukan pemeriksaan darah sebelum anak-anak memasuki usia 12 bulan, terutama untuk populasi berisiko tinggi, untuk mendeteksi kekurangan zat besi sejak dini dan mengobatinya sebelum menjadi kronis dan parah.

Sumber: kompas.com