Simak 5 Dampak Buruk Pemberian Air Putih bagi Bayi

3 April 2019 Artikel Kesehatan


Mungkin sebagian dari Anda beranggapan bahwa air putih merupakan minuman yang paling sehat dan bermanfaat bagi anak maupun orang dewasa. Akan tetapi hal tersebut tidak berlaku bagi bayi berusia kurang dari 6 bulan.

Seperti Anda ketahui, bayi pada masa tersebut masih memerlukan ASI eksklusif. Maka bayi tidak disarankan untuk minum air putih. Hal tersebut karena kebutuhan cairan si bayi sudah dipenuhi oleh ASI yang komposisinya terdiri atas 88 persen air.

Jika air putih dikonsumsi oleh bayi, maka akan berbahaya dan akan menimbulkan beberapa dampak buruk bagi kesehatan si kecil. Berikut adalah dampak buruk yang diakibatkan bila meminum air putih:

Kerusakan ginjal

Ginjal pada bayi berusia kurang dari 6 bulan hanya bisa menyaring ASI saja karena ginjal bayi pada usia tersebut belum sempurna. Jika dimasukan air putih maka akan menyebabkan timbunan air di dalam tubuh bayi sehingga dapat menyebabkan rusaknya ginjal.

Kekurangan nutrisi

Bayi yang mengkonsumsi air putih sebelum usia 6 bulan akan menyebabkan gangguan kemampuan tubuh dalam menyerap nutrisi ASI. Bayi akan mudah merasa kenyang sehingga sedikit menyusu ASI.

Keracunan air (water intoxication)

Ginjal si kecil yang belum sempurna membuat kandungan sodium dan elektrolit akan terbuang banyak jika bayi sudah minum air putih. Maka dari itu ASI yang menjadikan sumber tunggal zat sodium (natrium). Jika bayi kekurangan sodium, maka akibatnya akan membuat sikap anak seperti rewel, lemas, kejang hingga yang lebih parah ialah pembengkakan otak.

Infeksi bakteri

Perlengkapan minum atau wadah kurang bersih pada air putih yang diminumnya dapat juga meningkatkan resiko terkena infeksi bakteri pada si kecil. Infeksi bakteri ini dapat mengakibatkan diare pada si Kecil.

Gangguan otak

Pemberian air putih pada bayi menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit. Banyaknya elektrolit yang dikeluarkan dari semua organ tubuh, seperti ginjal, paru-paru, jantung, dan otak dapat mengakibatkan gangguan pada otak. Gangguan ini ditandai dengan gejala kejang dan suhu tubuh rendah.

Oleh: Josua M
(Dikutip dari berbagai sumber)