Si Kecil Hanya Ingin Susu?

2 Agustus 2010 Artikel Kesehatan


Stimulasi nutrisi merupakan salah satu faktor penting dalam tumbuh kembang anak. Sebab dalam proses tumbuh kembangnya, anak butuh energi yang cukup agar tujuan proses ini bisa tercapai secara optimal. Energi diperlukan untuk pertumbuhan dan pertambahan jumlah sel-sel tubuhnya, dan untuk proses maturasi fungsi sel-sel tubuh itu sendiri.

Anak mendapatkan energinya dari makanan yang ia konsumsi sehari-hari. Pada rentang usia 0-6 bulan, ASI adalah sumber utama dan yang terbaik, untuk mencapai tingkat pertumbuhan dan perkembangan tertentu. Setelah itu, anak baru diperkenalkan dengan makanan pendamping ASI yang memiliki jenis dan tekstur yang berbeda. Contohnya, bubur susu, bubur buah, biskuit bayi, atau susu formula tambahan.

Fase di mana asupan makanan anak tak lagi melulu hanya ASI atau susu formula ini menjadi tantangan besar bagi para orangtua. Masalah anak sulit atau enggan makan mulai terjadi, tak jarang hingga ia berusia balita. Hal ini menimbulkan kerisauan orangtua bahwa anak akan kekurangan energi dan nutrisi.

"Sulit makan" ini sebenarnya disebabkan toleransi anak terhadap makanan barunya berbeda antara satu anak dengan yang lain. Ada yang mudah menerima perubahan tekstur makanan, ada pula yang lebih lambat.

"Kemampuan menelan tiap anak berbeda. Mungkin anak malas mengunyah, atau ada juga yang menolak karena rasanya tidak seperti susu. Tapi orangtua sering menyerah dan hanya memberi yang disukai anak," tutur dr Rifan Fauzie, SpA, saat seminar "Nutrisi Tepat, Anak Sehat dan Cerdas", dalam Smart Parents Conference 2010 di Jakarta Convention Center, Sabtu (31/7/2010) lalu.

Dokter Rifan menambahkan, ada perbedaan waktu kematangan sistem oromotorik pada bayi. Perbedaan ini sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan, apalagi jika kemampuan psikomotorik lain masih dalam batas normal.

Oleh karena itu, keinginan anak untuk hanya mengonsumsi susu tidak boleh dibiarkan. Begitu pula ketika pada usia batita dan balitanya, anak menuntut makanan yang itu-itu saja. "Toleransi pada anak harus ada batasnya. Jangan sedikit-sedikit menangis, dikasih susu," papar dokter yang berpraktik di Divisi Respirologi Anak RSAB Harapan Kita ini. "Makan itu masalah kebiasaan kok. Jadi, harus dilatih terus. Sebab jika terlalu lama dibiarkan makan dengan cara yang kurang baik, akan susah untuk memulai kebiasaan yang baru."

Sumber: female.kompas.com