Artikel Kesehatan
17 Mei 2010

Segera Atasi Depresi pada Anak!

Ujian nasional menjadi momok yang menakutkan bagi siswa. Usai pengumuman kelulusan UN SMA dan SMP tahun ini, cukup banyak siswa yang gagal UN menjadi stres dan depresi.

Banyak yang menderita stres ringan, tapi juga ada yang mengalami depresi sampai berteriak-teriak, bahkan melakukan tindakan yang menyakiti diri sendiri. Hal ini jangan dibiarkan. Guru dan orang tua memiliki peran besar dalam memberikan bimbingan dan menjadi teman curhat membantu mereka keluar dari perasaan depresi ini.

Gagal UN bukan akhir dari segalanya. Namun, tidak semua siswa mampu berpikir rasional dan realitis menghadapi persoalan yang mengadang mereka. Pada kondisi ini, mereka membutuhkan orang-orang terdekat untuk membangkitkan semangat hidup dan mengajarkan mereka berpikir optimistik.

Stres pada anak sering bisa terlihat melalui tubuhnya. Misalnya munculnya jerawat, problem pencernaan, insomnia, kelelahan, sakit kepala, dan masalah sewaktu buang air, maupun reaksi psikosomatik lainnya mungkin merupakan tanda-tanda bahwa ada tekanan pada diri anak. Pada kondisi depresi, anak akan lebih banyak melamun dan menangis sendiri.

Menurut Prof. Carroll Izard, seorang peneliti, banyak hal yang bisa dilakukan orang tua dalam mengatasi stres dan depresi pada anak. Hal pertama yang harus dilakukan orang tua adalah mencari penyebab stres siswa. Apakah karena tekanan dari diri sendiri yang disebabkan harapan sangat tinggi untuk bisa lulus pada UN. Apakah karena tekanan orang tua yang memaksa siswa harus lulus pada UN. Atau tekanan guru karena ingin semua siswa lulus dan sekolah mendapat prestasi terbaik pada kelulusan UN ini.

Penyebab tekanan tertinggi harus diketahui, ini sangat penting untuk menerapi dan memberikan masukan kepada siswa. Apabila tekanan tertinggi datang dari orang tua, orang tua harus mengubah sikap, jangan pernah memvonis kegagalan yang dialami anak. Anak harus dilatih untuk kuat menerima kenyataan dan kegagalan. Ini adalah sebuah pelajaran emosional.

Orang tua harus menunjukkan sikap empati pada anak. Ikut merasakan kepahitan dan kegagalan yang dialami anak. Hal ini akan membantu kata-kata yang tepat untuk membangkitkan semangat si anak. Orang tua menjadi teman curhat yang menyenangkan, menjadi pendengar terbaik atas segala beban yang dikeluhkesahkan anak. Berikan pemikiran positif atas segala usaha dan perjuangan anak selama ini. Anak sudah berupaya keras mengikuti pelajaran di sekolah, mengikuti jam pelajaran sore, bahkan sampai les tambahan sampai malam hari. Usaha-usaha ini harus dihargai.

Selanjutnya, tumbuhkan sikap optimistis pada anak bahwa mereka masih memiliki banyak peluang untuk bisa lulus UN. Selain ada UN ulangan, ada paket C, dan kalaupun anak harus mengulang satu tahun lagi, itu bukan suatu hal yang memalukan. Anak harus dilatih untuk belajar dari kegagalan. Masalah tidak akan selesai dengan sendirinya. Bahkan, masalah menjadi semakin parah jika sedang stres. Cobalah selesaikan masalah sejak awal. Bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar, coba untuk berlatih jauh-jauh hari sebelum tiba masa UN.

Jika pendekatan ini belum bisa mengatasi stres dan depresi anak. Coba berbagi dengan guru dan lakukan konseling dengan psikolog. Diskusikan dengan mereka bagaimana cara mengatasinya. Ini merupakan cara terbaik untuk mengelola stres saat situasi sudah begitu berat

Selain orang tua, guru juga menjadi individu yang ikut bertanggung jawab terhadap stres dan depresi yang dialami siswa. Untuk itu, guru harus melatih kecerdasan emosional siswa sejak dini. Beberapa hal yang bisa dilakukan guru dalam melatih kecerdasan emosional siswa adalah:

Pertama, kurangi tugas (PR) yang bersifat formal. Perbanyak kegiatan alam dan berorganisasi. Rutinitas rekreasi jangan cuma diadakan saat liburan semester atau tahunan semata. Wisata juga tak perlu dilakukan jauh-jauh atau bersifat mewah karena itu pasti memakan banyak energi dan biaya.

Ajak mereka sekadar berkemah di lingkungan sekolah, mendaki perbukitan, hutan desa, pantai, dan ruang-ruang alam yang terbuka. Tingkatkan pula kecerdasan spiritual siswa dengan berziarah ke makam para tokoh, rumah ibadah, dan lainnya. Latihlah siswa bekerja sama dengan orang lain (team work), serta kenalkan karakter dan kemampuan tiap orang yang berbeda dengan dirinya.

Kedua, guru seyogianya menjadi teman curhat siswa. Apa pun masalahnya, guru harus bisa berempati. Jika sang siswa tak suka (malu) bercerita, sebaiknya guru aktif bertanya lebih dulu, atau memancing siswa agar mau ber-curhat ria.

Keempat, guru harus lebih sering mendongeng (bercerita), lalu biasakan pula siswa untuk bercerita. Taburilah dengan pesan-pesan emosional atau nasihat tentang kehidupan. Bobot cerita, tergantung dari batas usia siswa (SD, SMP, atau SMA)

Kelima, buatlah kartu emosi pribadi. Siswa diminta mengisi kolom ekspresi emosionalnya tiap hari. Evaluasi tentang perasaan senang, marah, sedih, atau yang lain. Siswa juga dapat dibiasakan punya buku catatan harian. Segala luapan emosi ataupun refleksi keseharian bisa dituangkan dalam buku tersebut.

Para siswa adalah manusia yang terus menempuh perjalanan hidup. Mereka harus memiliki kematangan emosi dalam menghadapi segala masalah yang kelak ditemuinya. (RIN/DARI BERBAGAI SUMBER/M-1)

Sumber: Lampungpost.Com

Artikel Kesehatan Lainnya...

Direktori Sekolah Info Beasiswa Solusi Pendidikan Promo Tahukah Kamu? Hiburan Tutorial Lowongan Iklan Baris