Sebelum Melakukan Diet, Pahamilah dengan Benar

9 November 2016 Artikel Kesehatan   |    Listhia H Rahman


Diet, menjadi salah satu kata yang cukup familiar di telinga saya. Mulai dari keluarga, sahabat, teman sampai orang yang bahkan tidak saya kenali pernah mengadu soal hal itu. Ada yang ribut ingin berat badannya naik, juga yang ingin turun, belum lagi yang risau karena pipinya dirasa over dan ingin ngurusin pipinya aja.

"Gimana yah dietnya?"

Sebelum menjawab bagaimana, saya ubah pertanyaannya dulu menjadi kata apa. Apa sudah paham pengertian dari diet?

Diet berasal dari bahasa Yunani (diaita) yang memiliki arti a way of life atau cara hidup. Jika kita mencoba mencari artinya di Kamus Bahasa Indonesia, diet diartikan sebagai aturan makanan khusus untuk kesehatan dan sebagainya (biasanya atas petunjuk dokter). Sedangkan menurut tim kedokteraan, diet adalah kebiasaan yang diperbolehkan dalam hal makanan dan minuman yang dimakan oleh seseorang dari hari ke hari, terutama yang khusus dirancang untuk mencapai tujuan dan memasukkan atau mengeluarkan bahan makanan tertentu.

Tidak perlu bingung akan pengertian diet yang bermacam-macam, karena pada intinya diet adalah cara makan yang diatur untuk mencapai tujuan tertentu.

Konteks Diet Tidak Hanya Berlaku untuk Menaikan/ Menurunkan Berat Badan

Pandangan masyarakat yang kompak menghubungkan diet sebagai penurunan berat badan membuat diet memiliki arti yang sempit yaitu sebagai perilaku untuk menurunan berat badan. Padahal tidaklah demikian, terdapat juga diet yang memiliki tujuan khusus. Semisal diet untuk penderita Diabetes Melitus dengan prinsip 3J (Jadwal, Jenis dan Jumlah) yang bertujuan untuk menjaga gula darah; Diet rendah protein untuk penderita yang mengalami penurunan ginjal; diet TKTP (Tinggi Kalori Tinggi Protein) yang bisa digunakan untuk mencegah dan mengurangi kerusakan jaringan contohnya pada pasien luka bakar. Beberapa diet yang belum disebutkan adalah ada diet hipertensi, diet hati, diet lambung, diet rendah purin, diet penyakit jantung, dan diet rendah lemak dan kolesterol.

Aturan yang Benar

Diet bukan berati tidak memakan sama sekai, tetapi adanya pembatasan jumlah asupan yang sudah diperhitungkan untuk mencapai tujuan tertentu. Jumlah asupan energi ini tergantung dari usia, jenis kelamin, tinggi badan, berat badan, aktifitas fisik dan bisa juga ditambah dengan faktor stress jika ada. Pada dasarnya diet bersifat personal. Itulah sebabnya program diet bisa berhasil bagi orang pertama, namun belum tentu jika dilakukan pada orang berikutnya.

Jika dalam konteks penurunan/kenaikan berat badan, program diet yang baik semestinya juga menawarkan mempertahankan badan setelah berat badan yang diinginkan tercapai. Ada yang mengatakan bahwa mempertahankan lebih sulit dari mencapainya, jadi tugas kalian ketika diet berhasil maka jangan lupa untuk mengendalikan agar tetap dalam hasil yang diinginkan.

Peran penyebaran informasi juga sangat berperan dalam hal ini, yang biasanya membuat sebuah program keberhasilan program diet tertentu menjadi bombastis karena diikuti dengan keberhasilan diet yang lainnya. Ya, kegagalan seseorang dalam menjalani program diet tertentu biasanya tidak banyak diekspos tapi sebaliknya jika berhasil maka akan viral secara cepat.

Pernah dengar diet yoyo? Ketika berat badan Anda berubah kembali ke semula, ke sebelum melakukan diet atau lebih parah lagi. Niat hati ingin cepat turun berat badan, yang terjadi justru kenaikan berat badan pasca diet. Seperti permainan yoyo, bayangkan saja. Kenapa bisa terjadi? Karena informasi yang ditangkap hanya hasil dietnya spektakuler, bukan mekanisme apa yang terjadi saat melakukan diet tersebut. Jadi, tetaplah jadi penerima informasi yang cerdas bukan hanya ikut-ikutan.

Perlu diingat juga, bahwa program diet yang baik bukan yang memberikan hasil drastis secara tiba-tiba (kecuali adanya alasan medis). Dan jika dalam kondisi tertentu ada baiknya untuk dikonsultasikan terlebih dahulu ke tenaga medis terkait seperti dokter spesialis gizi klinis atau ahli gizi kesayangan kalian.

(Penulis merupakan Sarjana Gizi di Universitas Diponegoro Semarang dan tulisan lainnya bisa dilihat di kompasiana.com/listhiahr)