Riset Menunjukan, Kebahagiaan Seseorang Berhubungan dengan Kondisi Otak

20 Februari 2016 Artikel Kesehatan


Kebahagiaan seseorang selama ini banyak dipresepsikan berasal dari kondisi hati. Namun, kadar kebahagiaan bagi para ilmuwan kini tak sekadar berasal dari hati, namun dapat terlihat dari salah satu bagian otak manusia yang disebut precuneus.

Penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan Kyoto University ini mendeteksinya dalam tes MRI. Saat emosi positif dan rasa kepuasan dalam hidup muncul secara bersamaan, tandanya pun akan terlihat di bagian precuneus dalam otak. Meskipun saat ini mekanisme bagaimana kebahagiaan bisa muncul dari dalam otak masih belum jelas, tetapi para peneliti menduga hal ini ada kaitannya dengan pikiran manusia secara sadar.

Dr. Wataru Sato, psikolog kognitif dari Kyoto University yang dilansir dari Daily Mail menyebutkan bahwa jika penelitian terus dikembangkan, ini akan menjadi penemuan besar untuk mengukur tingkat kebahagiaan seseorang secara objektif.

Studi lain yang serupa juga menyebutkan bahwa emosi positif dan kepuasan seseorang terhadap hidupnya bisa menambah area abu-abu di dalam precuneus. Semakin besar area abu-abu, maka dapat dipastikan orang tersebut semakin bahagia. Dalam penelitian ini, ditunjukkan pula bahwa beberapa orang sering kali merasa lebih bahagia ketika mereka berpikir bahwa mereka dihargai, disenangi, dan dihormati. Seperti saat menerima pujian, area abu-abu pada precuneus seseorang pasti akan meluas.

Jika kalian tahu, Precuneus ditemukan di bagian tengah lobulus parietalis pada otak manusia, tepatnya di bagian atas agak ke belakang otak manusia. Bagian ini berkaitan pula dengan memori episodik, sensasi tubuh, refleksi diri, dan beberapa akses kesadaran.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Report ini juga mengungkapkan bahwa seseorang yang memiliki area abu-abu lebih besar pada bagian otak belakangnya, merasakan kebahagiaan yang lebih intens dan jarang berlarut-larut dalam kesedihan. Mereka dinilai lebih mampu bangkit dan mudah memaknai setiap kejadian dalam hidupnya.

Jadi, kebahagian juga dapat ditentukan oleh pikiran atau yang asalnya dari otak, bukan hanya dari keadaan hati.

Oleh: Faqih F
(Dikutip dari berbagai sumber)