Resistensi Antibiotik Bisa Bertahan 12 Bulan

25 Mei 2010 Artikel Kesehatan


Pasien yang menggunakan antibiotik yang diresepkan oleh dokter umum mungkin mengalami resistensi yang bisa bertahan sampai 12 bulan, demikian menurut penelitian baru yang dipublikasikan oleh British Medical Journal (BMJ) edisi 19 Mei 2010.

Para profesional perawatan kesehatan dan sebagian besar orang awam menyadari bahwa resistensi antibiotik merupakan ancaman utama bagi kesehatan masyarakat. Namun, para peneliti menunjukkan bahwa ini tampaknya tidak menjadi alasan yang cukup kuat untuk menghentikan penggunaan antibiotik.

Para ilmuwan meneliti 24 studi mengenai resistensi antibiotik pada pasien, yang diresepkan oleh dokter pribadi mereka, dalam perawatan primer, terutama untuk infeksi saluran kencing dan pernapasan.

Para penulis kajian ini melaporkan bahwa ada bukti kuat yang menghubungkan resistensi antibiotik dengan resep antibiotik dalam perawatan primer untuk infeksi saluran kencing dan pernapasan. Efek terbesar terjadi dalam bulan segera setelah perawatan, namun dapat berlangsung sampai setahun, dan efek sisa mungkin mendorong ke tingkat resistensi lebih tinggi.

Peneliti menyimpulkan bahwa kajian ini memberikan bukti-bukti yang diperlukan untuk mengukur hubungan antara keputusan pemberian resep individual dan masalah resistensi. Mereka mengatakan hal itu menekankan bahwa satu-satunya cara untuk mencegah siklus "ganas" resistensi adalah sebisa mungkin menghindari penggunaan awal antibiotik. Namun, mereka juga meminta uji klinis lebih lanjut untuk memperkuat dasar pembuktian.

Dalam sebuah analisis, dua ahli ekonomi dan spesialis kebijakan kesehatan berpendapat bahwa ada kebutuhan mendesak untuk antibiotik baru untuk mengatasi bakteri yang resisten terhadap multi-obat. Mereka menunjukkan bagaimana insentif keuangan dapat dimanfaatkan untuk mendorong perusahaan farmasi untuk mengembangkan antibiotik baru. Mereka juga menyarankan bahwa tindakan tersebut perlu disertai dengan upaya untuk mengatasi terlalu seringnya menggunakan antibiotik, yang saat ini memperparah penyebaran bakteri yang resisten. (Ngarto Februana)

Sumber: Medical News Today (tempointeraktif.com)