Resep Anti Lemas Saat Berpuasa

7 September 2009 Artikel Kesehatan


"Puasa, pada dasarnya tidak berbeda jauh dengan hari-hari biasa. Hanya saja, pola makannya yang berubah. Disamping itu, pola asupan nutrisi selama puasa ikut pula berubah," jelas Ida Ruslita Amir, Pakar Gizi dari Persatuan Gizi Indonesia (Persagi) disela acara "Jasmani bernutrisi, Bekal Puasa Sempurna" yang digagas, Frisian Flag, akhir pekan lalu.

Dia menjelaskan, pada hari biasa asupan nutrisi berlangsung tiga kali dalam sehari dengan pola pemenuhan kalori yang harus dipenuhi pada pagi, siang dan malam hari. Sementara, pada bulan puasa asupan berubah menjadi dua kali dalam sehari dengan pola 1/3 kalori terpenuhi saat sahur dan 2/3 kalori yang terpenuhi saat berbuka.

"Terkadang, masyarakat tidak menyadari penggunaan pola yang salah saat memberikan asupan nutrisi saat berpuasa. Akibatnya, badan cepat lemas dan kurang bugar," imbuhnya.

Dijelaskan Ida, masyarakat malahan terbalik atau bahkan terkesan asal untuk menjamin asupan nutrisi. "Saat sahur, makannya banyak, terus saat buka itu balas dendam. Ini yang salah," tegasnya.

Oleh karena itu, Ida menyarankan agar masyarakat bisa menjalankan pola tersebut dengan baik. Karena pola itu bisa
mencegah rasa lemas dan malas saat beraktivitas. Lebih dari itu, pola ini tidak hanya berguna bagi individu yang sehat
tapi Individu yang sakit pun bisa diuntungkan dengan pola ini.

Saat berbuka misalnya, dia menyarankan untuk mengonsumsi makanan yang dengan segera mengembalikan tenaga secepatnya. "Konsumsilah makanan yang manis-manis dahulu semisal teh manis dengan kurma atau lainnya. Jangan langsung makan, berikan waktu kepada lambung untuk bekerja secara perlahan," tuturnya.

Usai memberikan jeda waktu, barulah memberikan asupan makanan berat. Disinilah, pola nutrisi perlu diperhatikan. " Kebutuhan kalori dalam sehari bisa mencapai 2100 kalori. Maka pada saat berbuka, hitung saja 2100 dibagi 2/3 maka diperoleh 1400 kalori atau saat sahur sekitar 700 kalori," tukasnya.

Dengan mengetahui kalori yang dibutuhkan, maka masyarakat bisa dengan mudah menyesuaikan asupan makanan yang dibutuhkan tubuh. Dengan begitu, masalah kegemukan dan lain-lain tidak menjadi masalah.

Khusus menjelang tidur misalnya, ida menyarankan untuk tidak mengonsumsi makanan berat lagi melainkan makanan ringan seperti buah-buahan atau roti gandum. "Saat lapar dikala malam, memang sebaiknya mengkonsumi makanan rendah kalori namun kaya serat yang mengenyangkan," tegasnya.

Berbeda dengan saat berbuka, asupan nutrisi pada saat sahur menitikberatkan pada usaha memberikan cadangan energi bagi tubuh dalam menjalankan aktivitas seharian. Kesalahan yang kerap terjadi, ujar Ida, masyarakat cenderung mengonsumsi makanan yang cepat kenyang tapi gampang lapar.

"Sebenarnya mudah saja menjalankan pola asupan nutrisi yang benar saat sahur. Pilihlah menu yang dicerna secara lambat
oleh tubuh. Makanan yang mengandung protein dan lemak tak jenuh menjadi pilihan yang tepat, semisal susu. Maka saat
tubuh memiliki rutinitas padat, dia dengan sendirinya mengeluarkan glukagon sebagai upaya menjadi energi pengganti," jelasnya.

Terkait konsumsi vitamin saat berpuasa, Ida menyarankan agar disesuaikan dengan kebutuhan. Menurutnya, kebutuhan akan vitamin telah diperoleh secara alami dari makanan. Akantetapi, bagi yang sedang sakit, kata dia, dianjurkan. Dengan catatan, jangan sembarang mengkonsumsi vitamin.

Dengan memperhatikan pola konsumsi seperti itu, Ida menjamin dapat meminimalisir rasa lemas saat beraktivitas. Namun, hal yang terpenting lagi menurut dia adalah kembali dari niat seseorang berpuasa." Niat memiliki nilai penting bagi seseorang yang berpuasa. Bila niatnya ingin menjalankan puasa secara sempurna maka insya Allah akan diridhoi yang maha kuasa," pungkasnya. (cr2/rin)

sumber: republika.co.id