Rekomendasi Vitamin D untuk Anak Ditambah

9 September 2009 Artikel Kesehatan


Dokter spesialis anak dari negara-negara terkemuka mengatakan, mulai bayi yang baru lahir hingga remaja seharusnya mendapatkan dosis dua kali lebih tinggi dibandingkan dosis yang direkomendasikan 200 unit vitamin D karena terbukti dapat mencegah penyakit berbahaya.

Menurut American Academy of Pediatric, untuk memenuhi dosis dari rekomendasi terbaru yaitu 400 unit perhari, jutaan anak-anak perlu memperoleh supelemen vitamin D. Termasuk anak-anak yang masih menyusu, bahkan yang juga sudah ditambah dengan susu formula serta banyak anak remaja yagn sangat kurang mengonsumsi susu atau tidak sama sekali.

Susu formula bayi mengandung vitamin d, jadi bayi yang mengonsumsinya tikan perlu suplemen. Namun, AAP tetap merekomendasikan bayi yang disusui untuk tetap mengonsumsi suplemen vitamin D setidaknya pada tahun pertama untuk menghindari kemungkinan kurangnnya kandungan vitamin D pada air susu ibu (ASI).
Sebagian besar susu sudah difortifikasi dengan vitamin D, namun sebagian besar anak-anak dan remaja tidak meminum dengan cukup yaitu empat gelas per hari berdasarkan rekomendasi terbaru. Hal itu dikatakan Dr Frank Greer sebagai salah seorang peneliti.

Rekomendasi terbaru untuk meningkatkan asupan vitamin D berdasarkan penelitian tentang keuntungan dari vitamin tersebut selain membuat tulang kuat, termasuk mengurangi risiko kanker, diabetes dan penyakit jantung. Namun, penelitian tersebut belum sepenuhnya terbuki dan belum ada konsensus tentang berapa banyak dosis vitamin d yang dibutuhkan untuk mengurangi risiko penyakit tersebut.

Rekomendasi itu akan menggantikan rekomendasi sebelumnya dari AAP yaitu 200 unit vitamin D per hari anak-anak hingga orang dewasa usia 50, usia 51-70 tahun sebanyak 400 unit dan 71 tahun keatas 600 unit. Untuk bayi dan anak-anak, vitamin D juga tersedia dalam bentuk obat tetes, kapsul dan tablet.

Institute of Medicine sebagai kelompok penasihat pemerintah AS yang mengatus standar diet saat ini sedang berdiskusi dengan pihak terkait apakah akan mengganti rekomendasi tersebut berdasarkan penelitian terbaru. Hal itu diungkapkan juru bicara, Christine Stencel.

Rekomendari itu akan segera dirilis pada sebuah konferensi di Boston. Kemudian akan dipublikasikan pada academy journal Pediatric bulan November mendatang.

Selain susu dan makanan lain yang sudah fortifikasi seperti sereal, vitamin D juga bayak ditemukan dalam ikan seperti tuna, makarel dan sarden.

Namun, sangat sulit untuk memperoleh dosis yang cukup dari makanan. Sumber vitamin D tersebaik adalah paparan sinar matahari. Tubuh akan membuat vitamin D saat terpapar sinar matahari.

Diyakini paparan sinar matahari selama 10-15 menit beberapa kali per minggu dapat mencukupi kebutuhan orang termasuk yang berkuit gelap. Namun orang yang berkulit pucat memerlukan lebih banyak.

"Supelemen vitamin D diperlukan sejak bayi, anak-anak hingga dewasa," ujar laporan dari Academy.

Penelitian baru-baru ini menunjukkan, banyak anak-anak tidak memperoleh vitamin D yang cukup dan kasus penyakit rakhitis yaitu kelainan tulang diaosisasikan dengan kekurangan vitamin sejak tahun 1800-an terus berulang.

Adrian Gombart, Peneliti tentang Vitamin D di Oregon State University mengatakan bahwa rekomendasi terbaru tersebut aman dan konservatif. Namun dosis 400 unit itu juga mungkin belum cukup.

Penelitian Gombart yang meneliti jaringan tubuh manusia menunjukkan, vitamin D membantu meningkatkan protein yang membunuh bakteri. Dia menuturkan, banyak ahli yang mempercayai dosis 800-1.000 unit per hari lebih efektif mencegah penyakit. (AP/ri)

Sumber: Republika Online (republika.co.id)