Pewarna Makanan Ganggu Kesehatan

7 Juli 2010 Artikel Kesehatan


PEWARNA kimia yang digunakan pada makanan membawa risiko kesehatan serius. Penggunaan pewarna ini, menurut laporan kelompok konsumen Center for Science in the Public Interest (CSPI), sebaiknya dilarang.

Menurut CSPI, tidak satu pun dari sembilan pewarna makanan buatan yang diterima di Amerika Serikat, telah terbukti aman. Studi-studi yang dilakukan pada hewan dan manusia menunjukkan bahwa paling tidak beberapa zat kimia pewarna berpotensi memicu penyakit.

"Seharusnya ada standar keamanan ketat untuk zat aditif makanan yang tidak memberikan manfaat sehat. Pewarna makanan tidak memenuhi standar tersebut," terang Direktur Eksekutif CSPI Michael F. Jacobson PhD, seperti dikutip situs webmd.com, Selasa (29/6).

Warna-warna tersebut, terang Bernard Weiss PhD dari University of Rochester, membawa risiko."Pertanyaan untuk orangtua: apakah perlu mengambil risiko sekecil apa pun untuk sesuatu yang sama sekali tidak bermanfaat," terang Weiss.

Weiss tidak terlibat dalam laporan CSPI. Akan tetapi, pada 1980, dia melaporkan studi klinis yang menunjukkan bahwa pewarna makanan bisa menyebabkan gangguan perilaku pada anak-anak.

Jacobson mengakui bahwa sebagian besar studi mengenai pewarna makanan mempunyai kualitas buruk. Tapi kondisi tersebut, terang dia, merupakan salah satu bagian dari masalah."FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika) belum melihat keamanan pewarna makanan dalam 15 atau 20 tahun. Menerima penggunaan pewarna yang mengandung karsinogen merupakan hal yang memalukan."

Sekarang ini, terang Jacobson, pewarna tambahan merupakan bagian penting dari semua makanan olahan. Dan anak-anak, lanjut dia, mengonsumsi banyak makanan olahan, termasuk sereal berwarna cerah dan minuman ringan berwarna. Anak-anak ini, terang
Jacobson, paling rentan terkena bahaya zat kimia beracun dari makanan.

"Anak-anak lebih banyak terpapar pewarna makanan dibandingkan orang dewasa. Dan anak-anak kemungkinan lebih sensitif terhadap karsinogen (pemicu kanker)." (IK/X-12)

Sumber: mediaindonesia.com