Peta Genetik Tumbuhan Berpotensi Jadi Penyelamat

20 Januari 2010 Artikel Kesehatan


Ilmuan dari Inggris telah menemukan peta genetik dari tanaman yang digunakan untuk mengatasi malaria (Artemisia annua). Temuan ini membawa harapan baru bagi jutaan orang yang menderita penyakit tersebut, yang khususnya banyak terjadi di India dan Sahara Afrika.

Ilmuwan dari University of York menyatakan bahwa penelitian mereka membuka jalan bagi pengembangan tanaman antimalaria unggul di negara-negara berkembang dalam dua tahun mendatang.

Keterbatasan Artemisia annua

Temuan peta genetik herbal Artemisia annua ini diagung-agungkan sebagai terobosan baru yang signifikan. Menurut peneliti, tanaman baru yang dibiakkan setelah adanya temuan ini akan diberikan kepada petani miskin. Para petani ini diharapkan bisa mengembangkan tanaman tersebut sebagai salah satu sumber pemasukan.

Meskipun bisa dicegah dan diobati, malaria menyebabkan kematian paling tidak satu juta orang per tahun.

Obat yang paling efektif untuk mengatasi penyakit ini adalah terapi kombinasi Artemisin (Artemisinin Combination Therapies/ACT). Akan tetapi, baru-baru jumlah tanaman Artemisia annua semakain terbatas. Padahal tanaman ini merupakan komponen kunci obat tersebut.

Dan untuk pertama kalinya, peneliti dari University of York mempublikasikan peta genetik dari spesies ini di jurnal Science. Peta genetik ini memungkinkan ilmuwan mengembangkan tanaman muda dengan performa yang sama tingginya dengan genetik pendahulu mereka. Temuan ini juga memudahkan pemilihan tanaman yang cocok untuk percobaan pembiakan.

Peta genetik tersebut, menurut pemimpin studi Profesor Dianna Bowles dan Profesor Ian Graham, telah dikembangkan dalam percobaan rumah kaca.

"Peta ini terbukti sebagai alat yang sangat penting," tutur Graham, seperti dikutip situs dailymail. Dengan adanya pemahaman baru mengenai genetik Artemisia ini, lanjut Graham, mereka bisa memproduksi Artemisia berkualitas tinggi dalam waktu secepat mungkin.

Temuan ini, terang Graham, menunjukkan bagaimana genetik modern telah mempersingkat waktu yang diperlukan untuk mengubah spesies tanaman liar menjadi tanaman domestik, yang potensial menyelamatkan jutaan nyawa. (IK/OL-08)

sumber: mediaindonesia.com/mediahidupsehat