Pestisida Sebabkan Anak Hiperaktif?

18 Mei 2010 Artikel Kesehatan


Para ahli di pelosok dunia terus berusaha menyingkap penyebab anak hiperaktif atau Attention Deficit Hiperactive Disorder (ADHD). Analisa teranyar menyebutkan ada kaitan antara anak ADHD dengan paparan pestisida yang biasa dipakai dalam tanaman sayur dan buah.

Kendati hasil studi tersebut tidak bisa membuktikan bahwa pestisida dalam budidaya pertanian menjadi biang keladi gangguan pemusatan perhatian pada anak, namun para ahli tetap mempertimbangkannya mengingat ada banyak faktor yang bisa memicu terjadinya ADHD.

"Saya akan menganggap hasil studi ini cukup serius," kata Virginia Rauh dari Columbia University yang melakukan kajian mengenai paparan pestisida pada kehamilan. Ia tidak terlibat dalam penelitian tentang ADHD dan pestisida.

Anak-anak dianggap lebih rentan pada bahaya kesehatan akibat penggunaan pestisida karena mereka masih tumbuh dan berkembang. Selain itu, anak-anak mungkin terpapar pestisida lebih banyak dibanding orang dewasa bila diukur dari berat badannya.

Dalam tubuh, pestisida akan dipecah menjadi komponen yang bisa terukur dari urin. Secara universal, berbagai penelitian menemukan data yang tidak jauh beda: komponen pestisida ditemukan pada 94 persen anak. Kadar pestisida yang tinggi ditengarai meningkatkan risiko anak menderita ADHD.

Pestisida bisa masuk ke dalam tubuh lewat udara, makanan yang diolah dari sayuran yang diberi pestisida, atau air minum. Untuk mengurangi paparan pestisida dari makanan, para ahli merekomendasikan konsumsi produk organik.

Menyadari bahaya pestisida bagi manusia, badan perlindungan lingkungan Amerika telah mengeluarkan batasan residu pestisida yang boleh ada dalam bahan pangan. Namun berbagai penelitian menunjukkan, bahkan sekecil apa pun, pestisida bisa mengganggu senyawa kimia di otak.

Ciri khas gangguan ADHD yang paling khas adalah sulit berkonsentrasi dan hiperaktif maupun impulsif pada setiap situasi. Dan, gangguan perilaku itu kerap menyebabkan anak gagal melakukan aktivitas dalam kehidupan sehari-harinya.

Penulis: AN/Editor: Anna

Sumber: Healthday News (kompas.com)