Perempuan Perlu Tidur Lebih Lama

29 Januari 2010 Artikel Kesehatan


Perdebatan mengenai pihak yang paling kelelahan umumnya terjadi pada tiap pasangan. Suami dan istri seringkali saling menuduh mengenai siapa yang tidur paling lama, siapa yang seharusnya mengurus anak yang menangis di malam hari dan siapa yang paling kuat mengerjakan tugas-tugas rumah.

Arianna Huffington, komentator ulung asal Amerika Serikat sekaligus co-founder situs berita The Huffington Post, telah mengangkat masalah tidur perempuan sebagai isu feminis. Menurut Huffington, masalah kurang tidur mempengaruhi pengambilan keputusan, kreatifitas dan kemampuan perempuan dalam mengembangkan potensi. Tapi, benarkah perempuan perlu tidur lebih lama dibandingkan laki-laki?

Menurut pakar tidur dari Inggris, perempuan perlu tidur 20 menit lebih lama dibandingkan laki-laki. Hal ini, menurut pakar, disebabkan oleh kesibukan serta aktivitas multi-tasking mereka.

"Fungsi utama tidur adalah membiarkan otak memperbaiki dan memulihkan diri," terang Profesor Jim Horne, direktur Sleep Research Centre di Loughborough University dan penulis buku Sleepfaring: A Journey Through The Science Of Sleep.

Selama tidur, korteks (bagian depan otak yang berkaitan dengan fungsi memori, bahasa dan lainnya), melepaskan diri dari indera dan beralih ke mode pemulihan. Semakin banyak Anda menggunakan otak di siang hari, semakin banyak area otak yang perlu pemulihan. Akibatnya, Anda perlu tidur lebih lama.

Perempuan, terang Horne, cenderung melakukan banyak pekerjaan secara bersamaan. Karena itu, mereka lebih banyak mempekerjakan otak dibandingkan laki-laki. Untuk mengimbanginya, perempuan perlu tidur lebih lama.

Akan tetapi, lanjut Horne, laki-laki yang mengerjakan tugas rumit dan melibatkan banyak aktivitas pengambilan keputusan dan berpikir juga memerlukan tidur lebih banyak dibandingkan laki-laki pada umumnya. Tapi tidak sebanyak perempuan.

Perbedaan ini, terang Horne lagi, disebabkan oleh perbedaan rangkaian otak. Rangkaian otak perempuan lebih kompleks dibandingkan laki-laki, sehingga kebutuhan tidurnya juga sedikit berbeda.

Horne meyakini bahwa perbedaan tidur ini bisa menjelaskan perbedaan kecepatan penuaan otak perempuan dan laki-laki. Otak perempuan berusia 75, menurut Horne, setara dengan otak laki-laki usia 70. Hal ini, lanjut Horne, karena otak perempuan cenderung mempunyai waktu lebih banyak untuk rileks dan memperbaiki diri.

Perempuan kurang tidur

Masalahnya, terang Horne, perempuan perlu tidur lebih lama tapi tidak bisa memenuhinya. Studi yang dilakukan peneliti dari North Carolina menemukan bahwa perempuan lebih menderita gangguan tidur dibandingkan laki-laki.

Apa penyebabnya? Menurut American Academy Of Sleep Medicine, hal ini dpengaruhi oleh ukuran tubuh perempuan yang lebih ringan dan lebih mudah terganggu dibandingkan laki-laki. Perempuan cenderung lebih mudah digerakkan dan terbangun akibat berat badan suaminya. Begitu terbangun, perempuan cenderung sulit untuk tidur kembali.

Di samping itu, beberapa perempuan menderita gangguan tidur selama kehamilan karena berat dan posisi bayi. Perempuan menopause seringkali mengalami gangguan tidur akibat gejala kilas panas (hot flashes). Selain itu, pikiran ibu lebih sensitif terhadap tangisan bayi, sehingga membuat perempuan lebih sering terjaga saat anak mereka menangis di tengah malam. (IK/OL-5)

sumber: mediaindonesia.com/mediahidupsehat