Pentingnya Sosialisasi Kanker di Sekolah

7 September 2009 Artikel Kesehatan


Kanker leher rahim menjadi salah satu jenis penyakit mematikan yang paling besar diidap wanita.Nah,untuk mengetahui bagaimana mengetahui gejala dan mengatasinya,sebuah diskusi digelar.

Acara ini khusus diberikan untuk siswi Perguruan Buddhis Bodhicitta. Peserta seminar yang terdiri atas para siswi SMP dan SMA itu tampak antusias mengikuti ceramah yang disampaikan Andy Luman. Andy menyatakan,penyakit tumor memiliki sifat jinak dan ganas. Untuk kategori ganas disebut kanker. Penyakit seperti ini sering diderita kaum perempuan,di antaranya kanker payudara, disusul kanker indung telur, leher rahim, dan rahim.

Diperkirakan, setiap satu jam satu orang perempuan Indonesia meninggal karena kanker serviks dan penyakit ini urutan pertama yang membunuh kaum hawa, paparnya. Dia menambahkan,kanker serviks (leher rahim) adalah sel-sel tidak normal pada leher rahim. Pertumbuhannya menjadi sel kanker memakan waktu 10 hingga 15 tahun. Kanker serviks umumnya terjadi pada rentang usia 30 hingga 50 tahun,yaitu puncak usia reproduktif perempuan sehingga akan menyebabkan gangguan kualitas secara fisik, kejiwaan,dan kesehatan seksual.

Andy menuturkan, faktor yang mendukung timbulnya kanker serviks, yakni akibat menikah saat usia muda (dikaitkan dengan usia pertama kali saat berhubungan seksual). Selain itu juga akibat faktor kehamilan yang sering, merokok, dan penggunaan alat kontrasepsi oral jangka panjang dan penyakit menular seksual. Ciuman memang tidak menyebabkan kanker serviks,melainkan melalui hubungan seksual.

Namun, penularan dapat juga terjadi jika penggunaan bersama alat-alat pribadi, terutama yang telah terkontaminasi, seperti handuk atau pakaian penderita penyakit ini, ungkapnya. Dia menambahkan, cara mendeteksi kanker rahim adalah pemeriksaan Pap Smear atau inspeksi visual asetat. Sementara itu, Ketua Panitia Alfian menyatakan, seminar yang merupakan kerja sama Perguruan Buddhis Bodhicitta dengan Glaxo Smith Kline ini diikuti sekitar 175 siswa SMP dan SMA. Sementara itu, sesi untuk guru dan umum diikuti sebanyak 128 orang.

Tujuan kegiatan tersebut untuk memberikan pengetahuan kepada para siswa tentang bahaya pe-nyakit reproduksi sehingga bisa mencegah sekaligus tindakan pengobatan apabila ada keluarga yang terkena penyakit ini. (nina rialita)

Sumber: Seputar-Indonesia.Com