Pentingnya Mendeteksi Depresi pada Anak Sejak Dini

24 Mei 2010 Artikel Kesehatan


Sulit membayangkan bila anak kelas tiga mengalami depresi. Apalagi membayangkan anak usia prasekolah tertekan. Penelitian baru-baru ini mengkaji depresi pada anak-anak dari usia enam tahun, yang hasilnya muncul di Current Directions in Psychological Science, jurnal Asosiasi Ilmu Psikologi. Psikiater anak, Joan Luby, dari Universitas Washington di St Louis, Amerika Serikat, baru-baru ini meneliti depresi pada anak-anak usia pra-sekolah dan pentingnya deteksi dini.

Depresi pada anak-anak usia prasekolah tidak selalu terlihat sama seperti halnya depresi pada anak-anak yang lebih tua dan orang dewasa. Ini adalah salah satu alasan bahwa depresi anak usia prasekolah telah terabaikan. Misalnya, pada orang dewasa yang tertekan, anhedonia (ketidakmampuan untuk menikmati pengalaman yang menyenangkan) cenderung muncul dalam bentuk libido menurun. Namun pada anak-anak muda, anhedonia dapat muncul sebagai ketidakmampuan untuk menikmati istirahat.

Selain itu, depresi usia prasekolah mungkin tidak diketahui oleh orang tua karena gejala-gejala mungkin tidak mengganggu; anak-anak ini mungkin tidak begitu tampak sedih (seperti yang dilakukan orang dewasa ketika mengalami tekanan berat).

Dalam studi ini, peneliti mewawancarai anak-anak prasekolah mengenai depresi yang mungkin mereka alami. Dan, wawancara itu memperlihatkan bahwa anak-anak usia prasekolah menunjukkan gejala-gejala khas depresi, termasuk perasaan kurang bahagia, rasa bersalah, dan perubahan pola tidur.

Penelitian ini menunjukkan bahwa depresi anak usia prasekolah bukan hanya terjadi sementara waktu, tapi mungkin menjadi sebuah manifestasi awal yang di kemudian hari bisa menjadi gangguan kronis. Penelitian ini pun menunjukkan, dibandingkan dengan anak-anak yang sehat, anak-anak usia prasekolah yang depresi lebih cenderung akan mengalami depresi pada masa kanak-kanak dan remaja kelak.

Karena itu, peneliti menyarankan bahwa betapa penting mengenali sejak dini gejala depresi pada anak prasekolah. Begitu juga dengan intervensi dini merupakan hal yang sangat penting. Otak anak sangat "plastis", mudah berubah dan beradaptasi terhadap peristiwa dan pengalaman baru. Plastisitas ini mungkin menjelaskan mengapa intervensi yang dimulai sejak awal lebih efektif.

Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengembangkan penyembuhan depresi anak prasekolah. Luby mencatat, meskipun sebuah penelitian menunjukkan bahwa obat antidepresi SSRI mungkin efektif bagi anak usia sekolah, ada kekhawatiran tentang efek samping obat tersebut. (Ngarto Februana)

Sumber: Medical News Today (tempointeraktif.com)