Pengidap VWD, Tak Boleh Asal Minum Obat

12 Mei 2010 Artikel Kesehatan


Jangan sembarangan menenggak obat bila Anda pengidap kelainan darah, terutama jenis von Willebrand disease (VWD). Banyak pantangan harus Anda patuhi. Sekali melanggar, akibatnya bisa fatal.
Dengan gejala seperti demam, sakit kepala disertai dengan nyeri, kebanyakan orang akan menghilangkan gejala itu dengan obat penghilang rasa sakit yang mengandung aspirin, seperti anacin, bufferin, dristan, atau midol. Padahal, obat-obatan ini tak disarankan para dokter.

Justru obat-obat tadi akan memperparah pendarahan. "Obat ini bisa mempengaruhi kerja trombosit sehingga pembuluh darah sulit tersumbat," ujar Djajadiman Gatot, Kepala Pusat Pelayanan Terpadu Hemofilia Rumahsakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.

Bagi penderita kelainan darah, rasa sakit itu bisa dihilangkan dengan obat-obatan yang mengandung acetaminophen. Obat jenis ini tidak mengganggu kerja trombosit.

Penderita VWD juga tidak disarankan melakukan kegiatan berat yang berpotensi menimbulkan kontak atau luka fisik. Maklum, ini bisa memperbesar potensi pendarahan. Untuk itu, dalam berolahraga, penderita VWD harus mencari kegiatan olah tubuh yang berisiko minim, antara lain berenang, senam ringan, serta joging.

Bila Anda kerap mengalami pendarahan yang berkepanjangan serta darah sulit membeku, Djajadiman menyarankan agar segera mengecek ke rumahsakit guna mencari tahu penyebabnya.

"Pengecekan untuk mengetahui kadar protein yang berfungsi membekukan darah atau biasa disebut faktor VIII," imbuh Soenardi Moeslichan Marzuki, Ketua Himpunan Masyakat Hemofilia Indonesia (HMHI).

Jika hasil cek darah menuliskan kandungan faktor VII minim, Anda bisa langsung mencari solusi agar tidak terlambat. Berbagai upaya penanggulangan dini itu, misalnya, pertama, penderita bisa melakukan transfusi darah untuk menambah protein pembekuan darah. Tapi, biaya transfusi ini lumayan mahal, bisa mencapai puluhan juta rupiah sekali transfusi. Biaya tersebut belum menghitung kebutuhan lain. "Total setahun bisa Rp 1 miliar," ujar Soenardi.

Kedua, terapi dengan menenggak obat yang mengandung protein. Banyak perusahaan farmasi yang menciptakan obat terapi protein ini. Namun, lagi-lagi, harga obat berprotein ini juga mahal.(Raymond Reynaldi)
Editor: acandra

Sumber: KONTAN (kompas.com)