Penghilang Rasa Sakit Berisiko bagi Pengemudi

28 Januari 2010 Artikel Kesehatan


Berhati-hatilah menggunakan obat penghilang rasa sakit, khususnya jika Anda hendak mengemudi. Pasalnya, obat yang umum digunakan sebagai penghilang rasa sakit telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kecelakaan lalu lintas yang berakibat fatal.

Penelitian menunjukkan bahwa pengendara motor yang meninggal akibat kecelakaan cenderung mengemudi dengan cara yang lebih berbahaya setelah mengonsumsi codeine. Codeine merupakan obat menyerupai morfin yang banyak digunakan dalam brand terkenal seperti Solpadeine dan Nurofen Plus.

Menurit hasil studi, penghilang rasa sakit tersebut bisa membuat pengemudi mengantuk. Hal ini akan membuat reaksi pengemudi melambat saat berhadapan dengan bahaya. Selain itu, pengendara yang telah menggunakan obat ini juga cenderung membuat kesalahan.

Codeine merupakan candu ringan, yang digolongkan sekelas dengan morfin dan metadon, pengganti heroin yang diberikan kepada pecandu obat-obatan. Pada dasarnya, codeine hanya bisa diperoleh dengan resep. Akan tetapi, codeine dosis rendah juga digunakan dengan parasetamol dalam produk-produk seperti Solpadeine atau ibuprofen. Obat jenis ini bisa dijual bebas di apotek.

Dalam percobaan baru-baru, para peneliti dari University and Northern Ontario School of Medicine di Canada, menganalisis detail dari ribuan kematian di Amerika Serikat akibat kecelakaan di jalan raya sejak 1975.

Lebih dari 2.100 pengemudi yang terbunuh terbukti telah menggunakan obat penghilang rasa sakit sepert codeine, morfin atau metadon.

Peneliti kemudian mencocokkan detail ini dengan laporan kecelakan. Hasil menunjukkan, pengendara dengan obat-obatan di sistem darah mereka cenderung memotong jalan, mengendarai terlalu kencang, atau mengemudi secara sembrono.

Perempuan yang sebelumnya telah mengonsumsi obat penghilang rasa sakit berisiko 42 persen lebih besar malakukan 'tindakan mengemudi berisiko' dan laki-laki berisiko 72 persen lebih besar. Selain itu, studi yang dipublikasikan di jurnal Accident Analysis and Prevention ini juga menyebutkan bahwa pengemudi berusia muda atau paruh baya lebih berisiko dipengaruhi oleh penghilang rasa sakit.

Menurut laporan tersebut, ketidakmampuan mepertahankan kenderaan di jalur yang tepat merupakan kesalahan terbanyak. Selain itu, sekitar 18 persen pengendara melaju terlalu cepat, tujuh persen membelok dengan cara yang tidak tepat dan enam persen mengemudi secara sembrono. (IK/OL-08)

sumber: mediaindonesia.com/mediahidupsehat