Pencemaran Picu Peningkatan Lupus

13 Januari 2017 Artikel Kesehatan


JAKARTA - Lingkungan yang tercemar bahan kimia dan kuman memicu munculnya penyakit otoimun, termasuk lupus. Untuk menekan kasus lupus, diperlukan pengendalian faktor pemicu tersebut.

Hal ini disampaikan Rachmat Gunadi, Kepala Divisi Rematologi RS dr Hasan Sadikin, yang juga pemerhati lupus, dalam talkshow tentang penanganan lupus yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan Syamsi Dhuha Foundation (SDF), Kamis (19/1), di Jakarta.

Lupus merupakan penyakit otoimun yang menyerang berbagai organ dan sistem tubuh. Gejala penyakit berupa radang di organ tubuh dan bisa mematikan.

Penelitian Rachmat menunjukkan, kasus lupus banyak ditemukan pada buruh pabrik, terutama yang terpapar sinar fluoresen dan senyawa kimia polivinilester. Gejalanya, kulit mengeras dan memerah.

Dian Syarief, Ketua SDF, menambahkan, di wilayah dengan higienitas buruk dan banyak kasus infeksi, ditemukan banyak kasus lupus. Menurut Rachmat, pemicu lupus, selain paparan sinar matahari dan infeksi virus, juga aktivitas fisik berlebihan, stres, obat, dan vaksin tertentu.

Lebih dari lima juta orang usia produktif di dunia menyandang penyakit ini. Di Indonesia diperkirakan ada 300.000 penderita. Dian meyakini kasus ini merupakan fenomena gunung es. Penyebabnya, deteksi gejala lupus sulit dan penanganan di daerah masih minim.

Sulitnya mendeteksi gejala lupus menyebabkan pasien lupus mendapat pengobatan yang salah, bahkan berakibat fatal. Mereka yang teridentifikasi lupus pun harus mengonsumsi berbagai obat dalam jangka waktu lama, bahkan seumur hidup. Tidak jarang efek samping obat berakibat fatal.

Data menyebutkan, harapan hidup penyandang lupus kian turun. Dalam kurun 20 tahun, harapan hidup tinggal 63-75 persen. Jika pengendaliannya tepat, mereka dapat terbebas dari obat. Namun, jumlahnya saat ini hanya 20 persen kasus.

Kini untuk meningkatkan harapan dan kualitas hidup penyandang lupus, dikembangkan obat herbal yang berefek samping minim.

Dalam penelitian yang memenangi Care for Lupus SDF Awards 2011, diketahui beberapa tanaman potensial dalam pengobatan dan pengendalian lupus untuk meningkatkan kualitas hidup.

Penelitian antara lain tentang daun cocor bebek oleh Niken Indriyanti dari Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung, manfaat propolis oleh Muhammad Sahlan dari Departemen Teknik Kimia UI, serta manfaat daun dan batang songgolangit oleh Abdul Khairul Rizki Purba dari Departemen Farmakologi Universitas Airlangga. Dalam hal ini, SDF mendukung dana penelitian.

Sumber: kompas.com