Penanganan Cedera Sering Tidak Tepat

16 Januari 2012 Artikel Kesehatan


JAKARTA - Semangat masyarakat berolahraga tak diiringi pengetahuan memadai tentang tata cara berolahraga yang benar. Sering kali cedera muncul saat berolahraga.

Umumnya karena tanpa pemanasan yang benar, ujar Wakil Presiden Asosiasi Ahli Bedah Lutut dan Panggul Indonesia (Indonesian Hip and Knee Society/IHKS) Ludwig Andre Pontoh di Jakarta, Jumat (13/1).

Metode pemanasan olahraga bagi setiap orang berbeda, demikian pula bentuk dan porsi olahraganya. Itu bergantung pada kondisi tubuh setiap individu, seperti umur atau berat badan.

Dari kasus yang ditangani Andre, cedera terbanyak dialami pemain futsal. Ada pula akibat bermain tenis, bulu tangkis, dan bola basket. Cederanya pun bermacam-macam, mulai cedera di ligamen (jaringan ikat yang mengikat tulang persendian), meniscus (bantalan sendi), dan tulang rawan.

Cedera saat berolahraga, khususnya cedera sendi, juga sering salah penanganan. Saat ditangani dokter, cedera yang dialami justru telah mengalami komplikasi yang menyulitkan penanganan.

Penanganan pertama

Saat cedera, lanjut Andre, hal yang harus dilakukan adalah mengompres bagian yang cedera dengan air es, bukan air hangat. Selanjutnya, bagian tersebut dibebat agar tidak bengkak. Setelah itu harus beristirahat. Jangan karena merasa sudah baik, langsung digunakan olahraga kembali, ujarnya.

Salep atau obat penghilang nyeri lain dapat digunakan. Namun, apabila dalam beberapa hari nyeri tak hilang atau bertambah parah, perlu segera dibawa ke dokter demi terapi yang sesuai, apakah cukup istirahat, mengonsumsi obat-obatan tertentu, atau operasi.

Kemampuan dokter

Presiden IHKS Nicolaas C Budhiparama menegaskan, kemampuan ahli bedah lutut dan panggul Indonesia mampu disandingkan dengan negara-negara lain. Bahkan, dalam pemanfaatan sejumlah teknologi bedah, seperti operasi dengan komputer, Indonesia termasuk negara Asia pertama yang menggunakan.

Faktanya, banyak warga kelompok menengah atas yang memilih melakukan operasi tulang ke negara lain. Padahal, kemampuan dokter Indonesia dalam beberapa hal lebih baik.

Ada sejumlah dokter Indonesia yang diminta melakukan operasi di luar negeri, tetapi yang diobati pasien Indonesia juga, ujarnya.

Menurut Nicolaas, larangan dokter Indonesia melakukan promosi membuat banyak kemampuan para dokter tidak diketahui publik. Sebaliknya, dokter atau institusi kesehatan asing justru boleh beriklan bebas di media massa.

Saat ini diperkirakan ada 490 dokter bedah tulang di Indonesia. Jumlah ini sangat kecil dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia. Terlebih lagi, kebutuhan masyarakat makin besar seiring meningkatnya minat masyarakat berolahraga.

Sumber: kompas.com