Pelukan, Sehatkan Hati dan Raga

14 Juli 2010 Artikel Kesehatan


Untuk bertahan hidup, kita membutuhkan 4 pelukan sehari.Untuk kesehatan, kita butuh 8 pelukan/hari. Untuk pertumbuhan, awet muda dan kebahagiaan, sehari kita perlu 12 pelukan.

Itulah resep sederhana hidup sehat yang diberikan ahli terapis keluarga Amerika, Virginia Satir. Benarkah pelukan adalah obat ajaib? Tidak hanya bagi orang dewasa, tapi juga anak-anak. Pelukan menjadi sumber kekuatan kala menghadapi masalah. Bagi pasangan suami-istri, pelukan juga dapat diartikan sebagai ajakan berdamai bila sedang berselisih pendapat.

Fakta menarik mengenai pelukan juga dilontarkan Dr. Harold Voth, senior psikiater dari Kansas. Katanya, pelukan mampu mengusir depresi, men-tune up sistem kekebalan tubuh, menjadikan tidur lebih nyenyak, dan membuat manusia awet muda. Tak hanya itu, pelukan yang rutin dilakukan setiap hari terbukti mampu mempererat hubungan anggota keluarga dan mengurangi terjadinya perselisihan.

Sementara, menurut Helen Colton, penulis buku The Joy of Touching, menemukan adanya peningkatan hemoglobin ketika seseorang disentuh. Kondisi ini menyebabkan suplai oksigen ke jantung dan otak lebih lancar. Suplai oksigen yang lancar dapat mempercepat proses penyembuhan jika seseorang sakit dan menjadikan tubuhnya lebih sehat. Jadi, tak salah bila pelukan dikatakan bisa menyembuhkan sakit hati dan merangsang hasrat hidup seseorang.

Sebuah penelitian lain menyebutkan, saat berpelukan tubuh melepaskan oxytocin, hormon yang berhubungan dengan perasaan damai dan cinta. Hormon ini membuat jantung dan pikiran sehat.

Berjuta manfaat berpelukan bahkan mendorong sebuah lembaga di Amerika dan Eropa untuk mengkoordinir Free Hug di jalanan. Beberapa relawan dengan papan besar di dada bertuliskan Free Hug, akan memberikan terapi pelukan ke siapa saja yang membutuhkan.

Tentu saja pelukan ini bukan berkonotasi negatif apalagi mengikutsertakan gairah.

Di Indonesia sendiri sesuai budayanya, berpelukan hanya lazim dilakukan pasangan suami istri, saudara dan orang tua ke anaknya.

Tapi saat ini mulai banyak juga yang melakukan cium pipi kanan kiri dengan teman. Meski awalnya ini hanya kebiasaan bila bertemu orang, tapi cukup memberi manfaat menenangkan jiwa, ujar Dr. Bhagat, salah satu doktor yang meneliti pengaruh pelukan di India.

Hal itu dibenarkan oleh Dr Hendro Riyanto SpKJ MM, psikiater dari Rumah Sakit Siloam Hospital Surabaya. Ketika seseorang dipeluk, akan mendapatkan rasa aman, nyaman, dan terlindungi. Misalnya pelukan seorang Ibu kepada anaknya. Pelukan tersebut akan membantu perkembangan jiwa anak, ucapnya.

Bahkan,lanjutnya, ketika bayi masih di dalam kandungan, walau terlindungi air ketuban, ia sangat menyukai sentuhan dari kedua orang tuanya. Jika sering disentuh, bayi dalam kandungan akan tumbuh menjadi bayi yang sehat dengan pertumbuhan yang bagus. Selain itu secara psikis bayi akan tumbuh menjadi seorang yang penyayang.

Sedangkan jika pelukan itu dilakukan oleh pasangan, baik remaja atau sudah menikah, bisa memberikan efek psikologis yang besar. Pasangan akan merasa diperhatikan, dicintai serta dibutuhkan. Selebihnya akan berdampak pada terciptanya hubungan yang harmonis.Pelukan adalah hal kecil, tapi manfaatnya luar biasa, kata Direktur RSJ Menur ini.

Hal senada diungkapkan dr Agustina Konginan SpKJ. Pelukan tergantung dari kondisi, suasana hati, dan apa yang dipikirkan oleh si pemeluk dan yang dipeluk. Jika pelukan itu dilakukan oleh orangtua kepada anaknya, bisa berarti itu menandakan rasa kasih sayang dan ingin mengayomi.Merupakan simbolik kasih sayang orang tua kepada anaknya, katanya. Efeknya, anak akan membangun fikiran positif dalam menjalani hidup.

Bahkan pelukan dan cium pipi juga mampu menjadi alat politik. Seperti yang terlihat pada budaya pejabat Indonesia maupun negara lain, pelukan dan cium pipi menjadi simbol keharmonisan hubungan antar negara.Meski mungkin hanya sebuah kebiasaan, tapi dengan simbol-simbol keharmonisan itu, kerjasama antara berbagai negara bisa terjalin baik, jelasnya.

Menurut Praktisi Emotional Intelligence Parenting dari Radani Emotional Intellegence Parenting Center, Hanny Muchtar Darta, Certified EI, PSYCH-K, SET, orangtua penting melakukan stimulasi dengan pendekatan 4-B. Belailah anak dengan memeluk sesering mungkin dan menciumnya, Bicaralah dengan anak dan juga bacakan buku sesering mungkin, Bermain dengan anak yang melibatkan fisiknya, dan bermain dengan anak yang melibatkan anak untuk Berpikir," jelasnya.

Sumber: surabayapost.co.id