Orangtua Harus Rutin Ukur Tekanan Darah Anak. Penyakit Hipertensi Bisa Menyerang Si Kecil

17 November 2009 Artikel Kesehatan


Penyakit hipertensi (darah tinggi) atau yang sering disebut silent killer, tak hanya menyerang orang dewasa tapi juga bisa menyerang anak. Setidaknya, dalam satu survei disebutkan tekanan darah pada anak-anak SD hingga usia remaja terdapat peningkatan kejadian hipertensi dari 1-3 persen populasi anak menjadi 10 persen di usia remaja.

Dari 100 anak yang diperiksa tekanan darahnya, terdapat satu hingga tiga orang atau 0,1 persen di antaranya mengalami hipertensi. Hal ini dikatakan dr. Beni Satria, Direktur klinik WKBT Perkumpulan keluarga berencana Indonesia (PKBI) Sumut, kemarin.

Dokter yang juga mejjabat sebagai Pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) wilayah Sumut ini mengungkapkan, Diperkirakan 2 per 3 dari anak dengan hipertensi di kemudian hari akan menderita kerusakan ginjal bila tidak ditangani dengan tepat, katanya Selasa (10/11).

Meskipun tidak banyak, namun kata dr. Beni, kasus hipertensi pada anak dapat berlangsung hingga usia dewasa dan meningkatkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Oleh karena itu orangtua harus mewaspadai hipertensi yang terjadi pada anak sesegera mungkin. Hipertensi pada anak biasanya merupakan gejala dari penyakit yang sesungguhnya diderita oleh anak. Hipertensi bahkan dapat menyerang bayi dan dapat menimbulkan kematian.

Di dalam dunia kedokteran, dikenal beberapa faktor penyebab hipertensi. Biasanya berhubungan dengan beberapa penyakit ginjal, saraf-pusat, jantung dan pembuluh darah, dan endokrin. Tetapi, bisa juga tak diketahui secara jelas penyakit penyebabnya atau sering disebut hipertensi primer (esensial), ungkapnya.

Lebih lanjut dr. Beni menjelaskan, secara matematik, tekanan darah normal manusia berbanding lurus dengan faktor kekuatan pompa-jantung (cardiac output) dan tahanan-perifer pembuluh darah (peripheral resistance). Apabila salah satu faktor (atau keduanya) terganggu dan mengalami peningkatan, maka tekanan darah akan meningkat.

Diungkapkannya hipertensi pada anak bisa disebabkan oleh berbagai hal, biasanya hipertensi pada anak disebabkan oleh penyakit ginjal. Setidaknya faktor ini mendominasi hingga 80 persen dari seluruh kasus, termasuk juga faktor yang disebabkan penyakit susunan syaraf pusat. Sebut saja misalnya tumor otak, jantung dan pembuluh darah, serta kelainan endokrin (hormone).

Namun, hipertensi juga dapat tidak diketahui penyebabnya. Kasus seperti itu disebut dengan hipertensi primer atau hipertensi esensial. Yang berbahaya ketika penyebab hipertensi tidak diketahui. Karena itu, orangtua harus senantiasa waspada dengan mengukur tekanan darah anaknya secara rutin, bebernya. Disebutkannya, dr. Beni bahwa jumlah anak penderita hipertensi di Indonesia atau di Kota Medan belum diketahui secara pasti, jumlahnya memang masih sangat sedikit. Setidaknya kurang dari 1 persen. Tidak terlalu besar memang namun bisa menjadi serius bila anak Anda termasuk dalam kelompok kecil tersebut, sahutnya.

dr Beni bilang, umumnya orangtua sangat jarang mengukur tekanan darah anaknya. Sebab, hipertensi identik dengan orang dewasa, terutama mereka yang kelebihan berat badan, serta orangtua yang memiliki riwayat hipertensi.

Secara klinis gejala hipertensi pada anak dikemukakan dr. Beni, umumnya tanpa keluhan, Namun pada kondisi tertentu dapat saja terdapat keluhan yang timbul pada anak seperti mimisan, sakit kepala, yang tidak tahu sebabnya, pusing, penglihatan tiba-tiba kabur, nyeri perut, mual-mual, muntah, napsu makan berkurang, gelisah, berat badan turun, sesak nafas, nyeri dada dan keringat berlebihan, pertumbuhan dan perkembangan yang terlambat, bilangnya.

Pada bayi, gejala hipertensi biasanya rewel berkepanjangan. Sedangkan pada anak besar, gejala hipertensi antara lain sakit kepala, gelisah, berdebar-debar, hingga sesak nafas.

Sebagai orangtua, tentu tidak ingin buah hatinya mengalami penyakit ini. Untuk itu, perhatikan pola makan anak. Hipertensi bisa disebabkan pola makan tidak sehat, seperti junk food (cepat saji) yang banyak kandungan garam atau lemak yang tinggi. (Adelina Savitri, Medan)

Sumber: Hariansumutpos.Com