Opsi Pengganti Nasi

3 Juni 2010 Artikel Kesehatan


Anak berusia di bawah 5 tahun biasanya makan nasi tiga kali sehari. Namun, karena nafsu makan yang kurang, Lisa, 4 tahun, kemudian makan buah. "Siang dia biasanya makan buah," kata neneknya, Sumarti, 56 tahun. Sedangkan pagi dan malam tetap makan nasi. Menurut neneknya, makan buah dilakukan agar asupan vitamin buat cucunya cukup.

Upaya Sumarti memberikan makanan pengganti ini sebetulnya sejalan dengan permintaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang disampaikan dalam Konferensi Dewan Ketahanan Pangan Tahun 2010 di Jakarta Convention Center, Senin pekan lalu. Presiden Yudhoyono meminta agar konsumsi beras dikurangi dan diganti dengan sumber pangan lain. Opsi pengganti itu sesuai dengan komoditas unggulan daerah masing-masing.

Masalahnya, apa yang dilakukan Sumarti tidak tepat. Soalnya, menurut dr Ratna Djuwita, MPH, dari Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI), nasi tidak bisa digantikan oleh buah. Pengganti nasi/beras harus sesuai dengan bahan pangan yang sepadan. "Nasi mengandung karbohidrat. Fungsinya sebagai sumber energi," kata Ratna. Sedangkan buah adalah sumber vitamin.

Ratna menyatakan, karbohidrat tak bisa digantikan oleh bahan pangan yang mengandung protein, lemak, atau vitamin. "Hanya pantas diganti dengan bahan pangan karbohidrat," ujarnya. Jika sumber energi diganti dengan makanan lain, suplai energi akan terhenti dan pengkonsumsi tak punya tenaga.

Idealnya, kata Ratna, komposisi makanan tiap hari terdiri atas 60 persen kalori dari karbohidrat, 15-20 persen lemak, serta 20 persen protein dan vitamin. Karbohidrat menjadi makanan utama karena sebagian besar kalori ada di dalamnya.

Pengganti beras/nasi yang sesuai, kata Ratna, misalnya sagu, jagung, singkong, kentang, dan roti. "Tergantung budaya masing-masing daerah," tutur Ratna.

Menurut Ratna, roti, yang biasanya terbuat dari tepung, sebenarnya mengandung karbohidrat. Tapi, karena tak sesuai dengan budaya masyarakat, roti bukan pengganti makanan utama. "Roti hanya berfungsi sebagai snack (makanan ringan) karena dianggap enggak 'nendang' untuk makan," kata doktor yang meneliti konsumsi zat makanan orang dewasa di empat etnis di Indonesia (Bugis, Jawa, Minangkabau, dan Sunda) ini.

Ratna menyatakan penyajian makanan pengganti nasi yang paling bagus adalah direbus. Pasalnya, jika disajikan dengan digoreng, proses menggoreng yang lama akan menghasilkan makanan yang mengandung asam lemak jenuh yang tinggi. Lemak jenuh ini banyak didapat dari minyak nabati yang dipanaskan dalam waktu lama, yang menyebabkan kolesterol jahat.

Sedangkan popcorn, walaupun berasal dari jagung, menurut Ratna, bukanlah makanan pengganti nasi. "Popcorn bukan inti jagung, tapi hanya kulit jagung." Sudah pasti, kandungan kalorinya tidak setara dengan yang terdapat pada beras atau nasi.
Seperti diketahui, kebutuhan akan kalori setiap orang berbeda, tergantung usia, jenis kelamin, dan aktivitasnya. Anak-anak di bawah 9 tahun, misalnya, kebutuhan kalorinya berkisar 1.090-2.190. Seiring dengan bertambahnya usia, kebutuhan akan kalori pun naik. Kebutuhan akan kalori mencapai puncaknya pada usia 20-39 tahun. Setelah itu, kebutuhan akan kalori secara perlahan menurun. (Nur Rochmi)

Sumber: Tempointeraktif.Com