Olahraga Berlebihan Picu Cedera pada Anak

14 April 2010 Artikel Kesehatan


Hampir separuh dari semua jenis cedera pada saat olahraga yang dialami oleh anak-anak karena dilakukan dengan porsi berlebihan. Padahal,cedera tersebut dapat dicegah. Olahraga memang menyehatkan.

Tapi jika dilakukan secara berlebihan, justru akan memicu cedera. Lihat saja angka penderita cedera pada anak-anak akibat olahraga telah meningkat cukup dramatis beberapa tahun terakhir ini.Itulah pesan dari peluncuran kampanye Stop Sports Injuries (Stop Cedera Akibat olahraga), yang dipelopori oleh koalisi sejumlah kelompok dokter dan atlet ternama. Di antara atlet yang mendukung kampanye ini adalah legenda golf profesional Jack Nicklaus,mantan Major League Baseball John Smoltz dan quarterback di University of Oklahoma Sam Bradford pemenang Heisman Trophy 2009. Ada banyak faktor di balik peningkatan angka penderita cedera akibat terlalu sering berolahraga. Tetapi satu hal penting yang harus dipahami adalah soal spesialisasi.

Anak-anak dipaksa untuk memilih salah satu olahraga dan mereka bermain itu sepanjang tahun, kata Dr James Andrews, ahli bedah ortopedi dan presiden dari American Orthopaedic Society for Sports Medicine seperti dikutip HealthDay.com. Kegiatan olahraga itu dulu musiman. Jika Anda bermain bisbol, Anda harus berhenti saat musim dingin. Sekarang, orang berpikir bermain sepanjang tahun seharusnya membuat Anda lebih baik, tetapi yang berlebihan tentu saja tidak selalu lebih baik,terang Andrews yang juga wakil ketua kampanye Stop Sports Injuries. Smoltz yang sekarang beralih profesi menjadi penyiar TV olahraga, setuju tentang hal itu. Saat saya kecil, saya memainkan semua olahraga dan sangat menikmatinya. Saya tidak merasa seperti harus bersaing dengan cara yang begitu meyakinkan untuk dilirik atau direkrut oleh tim bagus.

Jika Anda bertanya kepada setiap anggota liga utama dan atlet profesional lainnya, mereka akan mengaku bermain olahraga sepanjang tahun,ujarnya.Anak-anak seharusnya perlu waktu untuk pulih dan bermain olahraga lain, tambah Smoltz. Menurut kampanye Stop Sports Injuries,olahraga dengan risiko cedera tertinggi untuk anak-anak adalah baseball, football, bola basket, cheerleaders, menari, sepak bola, senam, lari, softball, renang, tenis,dan bola voli.The US Centers for Disease Control and Prevention memperkirakan atlet remaja menderita 2 juta kali cedera, 500.000 kunjungan ke dokter dan 30.000 ke rumah sakit setiap tahunnya. Ahli bedah ortopedi sekarang melihat dua tren soal ini, yaitu peningkatan pesat dalam jumlah penderita cedera dan penurunan usia atlet muda yang cedera akibat terlalu sering olahraga.

Dalam poster kampanye disebutkan, menurut American Academy of Orthopaedic Surgeons, setiap tahunnya lebih dari 3,5 juta anak muda usia 14 tahun dirawat akibat cedera olahraga. Anak-anak dan remaja yang berolahraga dapat mengalami dua jenis cedera yaitu cedera akut dan cedera berlebihan. Cedera akut adalah luka akibat trauma tunggal, seperti kena pukul tongkat bisbol atau patah tulang. Sementara cedera berlebihan terjadi karena mengulangi gerakan yang sama secara berulang kali. Cedera siku pada saat bermain tenis (tennis elbow) adalah contoh dari cedera yang berlebihan.

Menurut Dr Thomas M DeBerardino, seorang dosen ortopedi di University of Connecticut Health Center,Amerika Serikat,tingginya keterlibatan anak pada kegiatan olahraga akan meningkatkan cedera musculoskeletalsecara signifikan, baik traumatis maupun olahraga berlebihan yang sifatnya kronis. Tetapi, terang dia, kewaspadaan atau kepedulian serta pencegahan dapat mengatasi peningkatan kasus cedera pada anak-anak yang aktif berolahraga. Bahkan atlet di perguruan tinggi dan atlet profesional juga wajib menjalani istirahat selama musim kompetisi. Kita tak bisa menunggu anak-anak sampai di perguruan tinggi untuk mengubah pola olahraga mereka. Sebab jika sampai di sana, semuanya sudah terlalu terlambat, katanya.

Dr Theodore J Ganley, direktur pengobatan olahraga di The Childrens Hospital of Philadelphia, Amerika Serikat,memperingatkan bahwa kalangan remaja yang aktif latihan di gym sering kali mengalami cedera osteochondritis dissecans yaitu melunaknya tulang yang terletak dibawah tulang rawan. Orangtua dan pelatih mungkin tidak selalu menyadari bahwa cedera berlebihan telah terjadi. Anak-anak hanya ingin terus bermain dan tidak dapat menyatakannya secara langsung.Anak-anak tidak memiliki barometer saat kapan mereka harus berhenti.

Mereka belum cukup mampu untuk mendengarkan keluhan tubuh mereka. Mereka lebih suka berada di luar lapangan bermain, tutur Smoltz.(rendra hanggara)

Sumber: Seputar-Indonesia.Com