Misteri Resistensi Terhadap Malaria Terungkap

17 November 2011 Artikel Kesehatan


JAKARTA - Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi. Secara global, penyakit ini menyebabkan lebih dari satu juta kematian setiap tahun, paling banyak terjadi di Afrika dan Asia. Parasit menginfeksi sel darah merah (hemoglobin yang mengandung sel-sel yang membawa oksigen ke seluruh tubuh) dan membajak struktur dukungan dalam sel.

Beberapa orang diketahui secara alami resisten terhadap efek serius malaria dan para ilmuwan bertanya-tanya selama beberapa dekade bagaimana fungsi perlawanan mereka terhadap malaria bisa terjadi. Kini, penelitian baru mengungkap misteri tersebut.

Telah diketahui selama beberapa dekade bahwa beberapa orang di Afrika dan di tempat lain, yang memiliki mutasi gen yang menyebabkan anemia sel-sabit, juga memiliki resistensi terhadap malaria. Ini karena sel darah merah mereka mengandung bentuk hemoglobin-hemoglobin S yang tidak biasa, yang menghasilkan agregasi hemoglobin dalam sel. Mempunyai hanya satu salinan hemoglobin S bermutasi membuat seseorang menjadi pembawa simptom. Sementara yang memiliki dua salinan memproduksi simptom sel-sabit anemia. Kedua kasus mutasi tersebut memberikan beberapa perlindungan terhadap malaria. Mutasi lainnya, hemoglobin C, menyebabkan anemia hemolitik ketika dua salinan mutasi hadir dan ini juga bentuk perlindungan melawan malaria.

Dalam sebuah makalah yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Science, peneliti Marek Cyrklaff dari Heidelberg University, Jerman, bersama rekannya melaporkan bahwa bentuk hemoglobin yang tidak biasa dalam sel darah merah mencegah parasit malaria, Plasmodium falciparum, dari pembajakan filamen aktin yang menyediakan perancah kerangka dalam sel. Mereka membandingkan sel darah merah yang sehat dan terinfeksi yang berisi hemoglobin 'normal' dengan sel sehat dan terinfeksi yang berisi hemoglobin S atau hemoglobin C.

Dengan menggunakan tomografi cryoelekton, para peneliti menemukan bahwa dalam sel yang normal, sel-sel filamen protein aktin itu pendek dan berlokasi di bawah luar sel membran, di mana mereka menyediakan struktur dukungan pada sel untuk membuatnya kuat, tapi cukup lentur untuk melewati pembuluh darah terkecil.

Pada sel-sel yang terinfeksi dengan hemoglobin normal, mereka menemukan protein aktin berada pada filamen yang panjang, yang mana parasit digunakan untuk membangun jembatan intrasel (cytoskeleton), di dalam sel untuk mengangkut protein yang diproduksi sendiri (adhesin), ke permukaan sel. Efek dari adhesin adalah untuk membuat sel-sel yang berdampingan tetap bersama-sama dan untuk menancapkan sel-sel ke dinding pembuluh darah yang menyebabkan respons peradangan karakteristik malaria.

Pada sel-sel hemoglobin S dan C, jembatan tidak bisa komplet dan adhesin tidak bisa secara efektif diangkut ke permukaan sel sehingga mengurangi kekakuan sel. Para ilmuwan juga menemukan bahwa hemoglobin C dan S lebih mudah teroksidasi dibanding bentuknya yang tidak termutasi.

Malaria paling sering diobati dengan kina, tapi uji coba klinis dari vaksin kini sedang dilakukan di Afrika oleh GlaxoSmithKline dan hasilnya terlihat menjanjikan dengan tingkat efektivitas 65 persen. Riset terbaru ini menunjukkan bahwa obat malaria dapat dikembangkan dengan mengganggu kemampuan parasit dengan menggunakan filamen aktin.

Sumber: Medical Express, tempointeraktif.com