Migren pada Wanita Dipicu Perubahan Hormon

26 Maret 2012 Artikel Kesehatan


Jika dibandingkan pria, wanita merupakan kelompok paling rentan terkena migren atau sakit kepala sebelah. Mengapa? Sebuah riset terbaru menemukan, perubahan hormon yang terjadi pada wanita diduga sebagai alasan utama kenapa wanita cenderung lebih mungkin menderita migren ketimbang pria.

Data dari National Headache Foundation mencatat, sekitar 30 juta orang Amerika Serikat menderita migren dan wanita berisiko hampir tiga kali lebih tinggi mengalami serangan tersebut ketimbang pria.

"Perubahan hormon memiliki kontribusi besar terhadap insiden migren yang lebih tinggi pada perempuan," kata dr Michael Moskowitz, seorang profesor neurologi dari Harvard Medical School di Boston Amerika Serikat.

"Ada bukti yang mendukungan temuan ini dan penurunan serangan migren pada wanita biasanya terjadi pascamenopause." tambahnya.

Peneliti mengatakan, serangan migren pada wanita kemungkinan besar akan terjadi sebelum atau sesaat setelah timbulnya menstruasi. Selain itu, pola serangan migren pada perempuan dapat berubah selama kehamilan atau menopause.

Peneliti mengungkapkan, ada banyak faktor lain yang dapat meningkatkan risiko seseorang menderita migren baik pada pria maupun wanita:

* Keturunan: Orang dengan riwayat migren dalam keluarga, terutama mereka yang memiliki satu atau lebih saudara yang menderita migrain, secara signifikan berada pada peningkatan risiko yang lebih besar.

* Usia: Data menunjukkan, pasien mengalami migrain antara usia 15 dan 55 tahun. Serangan pertama biasanya terjadi sebelum usia 40.

* Kondisi medis: masalah kesehatan tertentu, seperti tekanan darah tinggi, cemas, stroke, depresi, dan epilepsi, telah dihubungkan dengan peningkatan risiko migrain.

Moskowitz mengatakan, meskipun migren tidak dapat disembuhkan, tetapi penyakit ini dapat dikelola secara efektif dengan bantuan dokter. Banyak obat yang tersedia untuk mencegah dan menghilangkan rasa sakit, dan perubahan gaya hidup dapat menghilangkan beberapa pemicu yang menyebabkan migren.

Sumber: healthdaynews, kompas.com