Mengenal Penyakit Talasemia

19 Agustus 2009 Artikel Kesehatan


SAMPAI kini penyakit talasemia belum dapat disembuhkan. Agar tetap bertahan hidup, penderita talasemia harus menjalani transfusi darah setiap bulan.

Akibat transfusi yang berulang, zat-zat besi pun menumpuk di tubuh. Untuk membersihkannya harus dilakukan suntikan desferal (deferoxamine) selama 20 hari dalam sebulan.

Bisa dibayangkan betapa lelah dan menderitanya mereka, terutama bagi anak-anak yang bahkan sudah harus ditransfusi darah saat usianya kurang dari satu tahun. Selain anak menderita secara fisik dan psikologis, orang tua pun harus mengerahkan daya untuk membiayai pengobatannya yang tidak bisa dibilang kecil.

Kondisi ini dialami Kholizah (4) divonis tim dokter RSUAM menderita talasemia sejak umurnya baru 3 bulan. Awalnya, putri bungsu pasangan Rumiyati (39) dan Khaerudin (50) ini menderita demam tinggi. Wajahnya pucat dan perutnya agak kembung.

Setelah dibawa ke rumah sakit dan dicek darah, ternyata Hb-nya rendah. Saat itu dokter mengatakan Kholizah terkena penyakit lever. Beberapa pekan berselang, suhu badan Kholizah tinggi lagi.

Setelah diperiksa lebih lanjut, tim dokter menyatakan kholizah mengidap kelainan darah atau dikenal dengan istilah talasemia. Untuk dapat hidup dan beraktivitas secara normal, Kholizah harus rutin transfusi darah dua kantong sekali dalam dua bulan. Biaya transfusi darah tentunya tidak sedikit, Khaerudin yang hanya bekerja sebagai buruh bangunan menggunakan layanan Jamkesmas untuk mengobati anaknya.

"Biaya transfusi kan mahal, untung kami menggunakan layanan Jamkesmas. Kalau tidak, uang hasil kerja ayahnya sebagai buruh tentu tidak cukup," ujar Rumiyati.

Penderitaan yang sama juga dialami Siska (13). Walau rutin melakukan transfusi darah tiga kantong dalam sebulan, kondisi fisik Siska sangat lemah. Pada usia 4 tahun, Siska terpaksa berhenti sekolah.

Di Lampung, penderita penyakit talasemia tidak banyak. Petugas kesehatan ruang Alamanda RSUAM Nirwana mengatakan setiap hari hanya ada 2-3 orang yang melakukan transfusi darah di RSUAM. Totalnya setiap bulan rumah sakit melayani sekitar 30-40 penderita talasemia.

Di Indonesia, ratusan ribu orang diperkirakan menjadi pembawa sifat talasemia atau disebut juga sebagai talasemia minor. Sementara itu, talasemia mayor adalah suatu penyakit darah serius yang bermula sejak awal kanak-kanak. Anak-anak yang memiliki talasemia mayor tidak dapat membentuk hemoglobin yang cukup dalam darah mereka.

Sebab itu, penderita talasemia memerlukan transfusi darah setiap bulan berikut perawatan medis. Di Indonesia, kini ada sekitar 5.000 penderita talasemia mayor yang terdaftar. Belum lagi yang tidak terdaftar atau tidak dapat mengakses layanan kesehatan.

Pusat talasemia di RSCM setiap bulan melayani 1.200 pasien. Setiap harinya tidak kurang dari 100 pasien menjalani transfusi darah.

Anda perlu mengenali gejala talasemia dengan benar. Gejala talasemia yang sering ditemui lesu, tidak punya nafsu makan, lekas lelah, sering terkena radang tenggorokan dan flu. Penderita mengalami ketidakseimbangan dalam produksi hemoglobin (Hb).

Talasemia adalah kelainan darah yang sifatnya menurun (genetik). Penderitanya mengalami ketidakseimbangan dalam produksi hemoglobin (Hb). Hemoglobin adalah komponen sel darah merah yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen. Hemoglobin terdiri dari beberapa jenis protein, di antaranya protein alfa dan protein beta.

Penderita talasemia tidak mampu memproduksi protein alfa/protein beta dalam jumlah yang cukup sehingga sel darah merahnya tidak dapat terbentuk dengan sempurna. Insiden pembawa sifat talasemia di Indonesia berkisar 6-10, artinya dari setiap 100 orang 6-10 orang adalah pembawa sifat talasemia. Talasemia diturunkan orang tua yang carrier kepada anaknya. Jika ayah dan ibu menderita talassemia, kemungkinan anaknya membawa sifat talasemia sebesar 50.

Karena pembawa sifat talasemia tidak dapat dibedakan dengan individu normal, statusnya hanya dapat dibedakan dengan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan laboratorium untuk screening dan diagnosis talasemia meliputi:

1. Hematologi rutin untuk mengetahui kadar Hb dan ukuran sel-sel darah.

2. Gambaran darah tepi untuk melihat bentuk, warna, dan kematangan sel-sel darah.

3. Feritin, SI, dan TIBC untuk melihat status besi.

4. Analisis hemoglobin untuk diagnosis dan menentukan jenis talasemia.

5. Analisis DNA untuk diagnosis prenatal (pada janin) dan penelitian.

Bagi wanita penderita talasemia yang sedang hamil tidak perlu khawatir. Mereka tetap memiliki harapan mendapatkan anak yang sehat. Namun, memang selama masa hamil dilakukan transfusi darah dan pemantauan suplai oksigen ke janin secara rutin. Konsumsi vitamin dan suplemen sesuai dengan anjuran dokter untuk mencegah defisiensi.

Penderita juga harus melalui beberapa pemeriksaan penting untuk memantau kondisi kesehatannya dan janin yang dikandung. Seperti, tes penapisan (screening) untuk mengetahui kemungkinan janin mewarisi penyakit talasemia, serta konseling dan diagnosis yang teratur. Penderita harus menjaga kondisi emosinya. Selain fisik, kondisi emosi ibu hamil cenderung mudah bergejolak.

Stres dan depresi akan memicu jantung, hati, dan sistem hormonnya bekerja dengan lebih aktif, yang akan memperburuk keadaan ibu. Tentunya, dengan terapi dan penanganan yang tepat untuk menjaga kadar zat besi dalam darah ibu, si kecil pun dapat lahir dengan sehat dan normal. RIN//DARI BERBAGAI SUMBER/M-1

Sumber: Lampungpost.Com